Ridha terhadap Pembagian Rezeki Allah SWT.

Ketidakpuasan terhadap takdir adalah pintu gerbang utama munculnya rasa iri. Saat kita merasa Allah tidak adil karena memberikan nikmat lebih kepada orang lain, di situlah iman kita sedang diuji. Belajar untuk rida dengan apa yang ada di tangan kita dan meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik pembagi rezeki adalah kunci utama agar hati terhindar dari penyakit hasad yang merusak.

    Membedakan Hasad yang Haram dengan Ghibthah yang Boleh.

Namun, penting untuk diketahui bahwa tidak semua rasa “ingin seperti orang lain” itu dilarang. Ada yang disebut dengan Ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki nikmat yang sama dalam hal kebaikan atau ilmu tanpa berharap nikmat orang tersebut hilang. Misalnya, iri melihat orang lain rajin bersedekah lalu kita termotivasi untuk melakukan hal yang sama; inilah kompetisi dalam kebaikan yang justru dianjurkan.

    Menemukan Kebahagiaan dalam Kesederhanaan Hati.

Ketenangan hidup yang sejati hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki hati yang lapang. Orang yang rida akan merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan tidak akan merasa terancam oleh kesuksesan siapapun. Dengan fokus pada perbaikan diri sendiri dan hubungan dengan Allah, kita tidak akan punya waktu lagi untuk sibuk memikirkan atau mengharapkan hilangnya nikmat orang lain.

Allah berfirman dalam Al Quran Surah An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”