“Bukan Rezeki yang Mengejar Kita, Tapi Ilmulah! Ini Penjelasan yang Membuka Mata”
Ketika Banyak Orang Kehabisan Waktu Mengejar Rezeki
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang menghabiskan seluruh energinya untuk mengejar rezeki. Sejak pagi hingga larut malam, jadwal dipenuhi pekerjaan, target dicatat dalam agenda harian, dan pikiran dipaksa selalu produktif. Rezeki seakan menjadi pusat kehidupan; siapa yang tidak mengejar, dianggap akan tertinggal. Namun, di tengah hiruk pikuk ini muncul pertanyaan penting: benarkah rezeki itu harus dikejar mati-matian?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat banyak orang kelelahan secara mental, kehabisan waktu untuk ibadah, dan kehilangan kesempatan untuk menuntut ilmu. Padahal Islam sejak awal menekankan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Yang harus dikejar oleh manusia justru ilmu yang akan membimbing hidupnya. Ini bukan pemikiran baru. Para ulama klasik telah membahasnya, dan kini disampaikan kembali oleh para pendakwah modern.
Dalam program Inspirasi Malam MQFM Bandung, Ustaz Olis Abdul Khalis memberikan perspektif yang menggugah. Penjelasan beliau membuka mata betapa selama ini banyak orang terbalik arah: mengejar apa yang sudah dijamin, tetapi melupakan apa yang justru wajib diperjuangkan.
Fenomena Sekarang Ketika Khawatir Rezeki Menguasai Hati
Di era digital dan kompetisi global seperti sekarang, ketakutan akan kekurangan rezeki semakin kuat. Banyak orang merasa harus bekerja lebih keras dari waktu ke waktu hanya untuk mempertahankan standar hidup. Akibatnya, menuntut ilmu dianggap sekunder, bahkan tidak jarang diabaikan sama sekali. Ini adalah fenomena yang menarik perhatian banyak ulama, karena ketika fokus manusia hanya kepada dunia, maka kualitas hidupnya justru menurun.
Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim mengingatkan bahwa seorang penuntut ilmu tidak boleh terlalu memikirkan rezeki hingga mengganggu fokusnya. Rezeki sudah ditetapkan Allah; tidak bisa bertambah atau berkurang dari takaran yang Allah tetapkan. Justru ilmu-lah yang belum ditentukan. Dan karena itu ilmu harus diusahakan.
Fenomena ketakutan berlebih terhadap rezeki membuat manusia gelisah dan kehilangan arah. Padahal, ketika hati terikat pada dunia, maka ketenangan akan menjauh. Di sinilah pentingnya kajian seperti yang disampaikan Ustaz Olis untuk mengembalikan orientasi hidup yang benar.
Apa Itu Ilmu dan Mengapa Harus Dikejar?
Dalam Islam, ilmu bukan sekadar informasi. Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan, memberi kemampuan membedakan yang benar dari yang salah, serta membentuk pribadi yang matang. Ilmu juga membantu seseorang mengelola rezeki, waktu, emosi, hingga menghadapi ujian hidup dengan lebih dewasa. Ilmu yang dimaksud para ulama adalah:
- Ilmu agama, yang memberi arah hidup.
- Ilmu kehidupan, yang membantu menjalani peran sebagai manusia di dunia.
- Ilmu akhlak, yang memperbaiki karakter.
Karena ilmu sangat penting, Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:
“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa kedudukan manusia tidak ditentukan oleh harta, tetapi oleh ilmu. Rezeki bisa datang dan pergi, tetapi ilmu memberi kemuliaan abadi.
Mengapa Rezeki Tidak Perlu Dikejar Berlebihan?
Rezeki adalah bagian dari takdir yang telah dicatat untuk setiap manusia. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa rezeki seseorang telah ditetapkan sejak ia berada dalam rahim ibunya. Artinya, apapun usaha manusia, rezekinya tidak akan melampaui batas yang Allah tentukan.
Karena itu Syekh Az-Zarnuji menegaskan: “Rezeki sudah ditentukan, tetapi ilmu belum. Maka kejar lah yang belum ditentukan.”
Pernyataan ini menggugah. Banyak orang justru memprioritaskan apa yang sudah dijamin, tetapi mengabaikan apa yang harus diperjuangkan.
Ustaz Olis menyampaikan bahwa berlebihan dalam memikirkan rezeki membuat seseorang kehilangan kekhusyukan, fokus, bahkan makna hidup. Ia menegaskan, “Ketika seseorang terlalu sibuk dengan rezeki, hatinya menjadi sempit dan sulit menerima ilmu.” Sebaliknya, orang yang fokus menuntut ilmu justru diberi ketenangan, dan dari ketenangan itu rezeki mengalir dengan berkah.
Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa mendalami agama Allah, Allah cukupkan kebutuhannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(HR. Abu Nu’aim)
Hadis ini memberikan jaminan bahwa rezeki akan datang kepada siapa pun yang memprioritaskan ilmu dan ibadah.
Ilmu Mengangkat Derajat dan Mempermudah Urusan
Dalam siaran MQFM, Ustaz Olis menjelaskan bahwa menuntut ilmu memang penuh tantangan. Bahkan Nabi Musa ‘alaihissalam pun menghadapi kesulitan ketika belajar kepada Nabi Khidir. Ini memberi pesan bahwa jalan ilmu memang berat, tetapi balasannya luar biasa.
Syekh Az-Zarnuji juga menjelaskan bahwa para ulama menilai menuntut ilmu dapat lebih utama daripada jihad fisik di medan perang, karena ilmu adalah benteng kehidupan. Dengan ilmu, seseorang dapat membuat keputusan yang tepat, menghindari bahaya, dan memperbaiki kualitas hidupnya.
Bukan hanya itu, ilmu membuat urusan menjadi mudah. Orang yang berilmu memiliki hikmah dalam bertindak, kecerdasan dalam memilih, dan kedewasaan dalam menghadapi masalah. Dengan demikian, kemudahan hidup bukan datang dari banyaknya harta, tetapi dari luasnya ilmu.
Al-Qur’an menegaskan:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan membuatnya faham dalam agama.”
(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Pemahaman adalah kunci kemudahan, dan pemahaman lahir dari ilmu.
Rezeki Itu Justru Mengikuti Orang Berilmu
Pandangan bahwa rezeki mengejar orang berilmu terbukti dalam banyak kisah para ulama. Mereka tidak menghabiskan hidup untuk mengejar harta, tetapi Allah memberikan kecukupan dari arah yang tidak disangka-sangka. Ini karena ilmu melahirkan keberkahan, dan keberkahan menarik rezeki. Rezeki dalam Islam tidak terbatas pada materi. Rezeki mencakup:
- ketenangan hati,
- kesehatan,
- waktu yang bermanfaat,
- kemampuan memahami masalah,
- kemampuan menolong orang lain.
Semua ini berhubungan langsung dengan ilmu. Tanpa ilmu, harta melimpah sekalipun tidak membawa kebahagiaan. Dengan ilmu, sedikit rezeki menjadi penuh arti.
Allah berfirman:
“Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
Ilmu membawa kepada amal, dan amal membawa kepada rezeki.
Yang Terpenting Menata Hati, Bukan Menambah Harta
Pada akhirnya, inti pembahasan bukanlah memilih antara mengejar rezeki atau ilmu. Keduanya diperlukan. Namun prioritas harus jelas. Rezeki sudah dijamin, tetapi ilmu tidak akan datang tanpa usaha. Ketika hati ditata dengan ilmu, maka rezeki yang datang pun menjadi berkah, mencukupi, dan menenangkan. Ustaz Olis menutup kajiannya dengan pesan: “Jangan letakkan dunia di hati, tapi letakkan di tangan. Letakkan ilmu di hati, karena itulah yang akan menyelamatkan kita.”Mengejar ilmu bukan berarti meninggalkan pekerjaan. Namun, menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menuntun langkah, memilih yang halal, dan menata hidup dalam ridha Allah.