Mengenali Batas Antara Curhat dan Menggunjing
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa obrolan ringan yang awalnya diniatkan sebagai curhat (mencurahkan isi hati) sering kali bergeser menjadi gibah atau menggunjing. Ustaz Suherman Ar-Rozi menjelaskan bahwa gibah adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain yang jika orang tersebut tahu, ia tidak akan menyukainya. Di bulan Ramadan, jebakan ini sangat nyata terutama saat para ibu rumah tangga atau rekan kerja saling bercerita tentang keluh kesah keseharian mereka.
Batas antara curhat yang diperbolehkan dan gibah yang dilarang sangatlah tipis, yakni terletak pada fokus pembicaraannya. Jika curhat dilakukan untuk mencari solusi atau sekadar melepaskan beban emosi tanpa menyudutkan pihak lain, hal itu masih dalam batas wajar. Namun, jika obrolan mulai merembet pada pembongkaran aib orang lain yang tidak ada hubungannya dengan solusi permasalahan, maka pahala puasa Anda sedang berada dalam ancaman serius untuk hangus seketika.
Ustaz mengingatkan bahwa gibah tetaplah gibah meskipun apa yang dibicarakan itu benar adanya (fakta). Jika apa yang dibicarakan itu salah atau tidak sesuai kenyataan, maka dosanya meningkat menjadi fitnah yang jauh lebih kejam. Oleh karena itu, kesadaran penuh saat berbicara sangat diperlukan agar lisan kita tidak tergelincir menjadi instrumen penghancur pahala puasa yang sudah kita bangun dengan susah payah sejak fajar.
Solusi Jika Terlanjur Melakukan Gibah
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, sehingga ada kalanya kita tidak sengaja terjebak dalam lingkaran gibah saat sedang mengobrol. Jika hal ini terjadi, Ustaz memberikan panduan praktis untuk segera memutus rantai dosa tersebut dengan cara beristigfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Begitu Anda sadar bahwa arah pembicaraan sudah tidak sehat, segeralah beralih ke topik lain atau menghentikan pembicaraan tersebut secara sopan.
Allah Subhana Wata’ala berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Ahzab Ayat 58:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
Artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”
Dala kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَأكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ اَفَرَاَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنَّ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِاغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَهُ
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”
Untuk menebus kesalahan gibah yang terlanjur dilakukan, ada beberapa langkah yang bisa diambil agar pahala puasa tidak hilang sepenuhnya. Jika orang yang kita bicarakan belum mengetahui bahwa dirinya digunjingkan, kita cukup mendoakan kebaikan bagi orang tersebut (istigfar untuk orang yang dizalimi). Kita bisa mengucapkan doa seperti, “Allahummagfirlahu” (Ya Allah, ampunilah dia), sebagai bentuk penebusan atas lisan kita yang telah menzalimi kehormatannya.
Namun, jika gibah tersebut telah sampai ke telinga orang yang bersangkutan atau menyebabkan kerusakan hubungan, maka syarat taubatnya menjadi lebih berat karena melibatkan hablum minannas (hubungan sesama manusia). Kita diwajibkan untuk meminta maaf secara langsung dan memohon keridhaannya agar kita tidak menjadi orang yang bangkrut (muflis) di hari kiamat. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lisan jauh lebih mudah daripada harus memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan.
Keutamaan Menjadi Pribadi yang Pemaaf
Salah satu indikator keberhasilan puasa seseorang adalah kemampuannya untuk mengendalikan emosi dan menjadi pribadi yang pemaaf. Ustaz menekankan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, meskipun ia berada di pihak yang benar. Jika ada orang lain yang menggibah atau membully kita saat sedang berpuasa, pilihan terbaik adalah tidak membalasnya dengan hal serupa.
Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ. رواه مسلم وغيره
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).”
Menjadi pemaaf bukan berarti kita lemah, melainkan menunjukkan kebersihan hati (qolbun salim) yang menjadi tiket menuju surga. Dengan memaafkan orang yang menzalimi kita, kita justru sedang menyelamatkan pahala puasa kita sendiri dari sifat dendam dan benci yang merusak. Sebagaimana kita ingin Allah mengampuni dosa-dosa kita yang sangat banyak, maka kita pun harus melapangkan hati untuk memaafkan kesalahan hamba-hamba-Nya yang lain.
Sifat pemaaf ini merupakan buah dari puasa yang berkualitas dan menjadi benteng agar kita tidak terjerumus dalam perilaku mencela kembali. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa jika ada orang yang mencaci atau mengajak bertengkar saat kita berpuasa, cukup katakan dalam hati atau lisan, “Inni shoim” (Sesungguhnya aku sedang puasa). Dengan demikian, kita tetap fokus pada tujuan utama Ramadan, yaitu meraih derajat takwa yang paripurna.