Puasa Sah Secara Fikih vs Puasa Berpahala
Dalam kajiannya, Ustaz Suherman menjelaskan perbedaan mendasar antara puasa yang sekadar sah menurut hukum Islam dan puasa yang benar-benar mendatangkan pahala. Puasa dianggap sah secara fikih apabila seseorang memenuhi rukun-rukunnya, seperti berniat dan menahan diri dari makan, minum, serta hubungan suami istri sejak fajar hingga magrib. Jika kriteria ini terpenuhi, maka kewajiban puasa seseorang telah gugur dan ia tidak perlu menggantinya di hari lain.
Namun, puasa yang sah tersebut belum tentu bernilai pahala atau mendatangkan rida di sisi Allah SWT. Banyak orang yang berhasil menahan lapar dan haus seharian penuh, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lemas dan dahaga. Hal ini terjadi karena mereka tidak menjaga esensi puasa sebagai sarana pengendalian diri dari kemaksiatan. Rasulullah SAW telah memperingatkan fenomena ini agar umatnya tidak terjebak dalam ibadah yang hampa makna.
Penting bagi setiap Muslim untuk memahami bahwa puasa adalah paket ibadah yang melibatkan fisik dan ruhani secara bersamaan. Puasa yang berpahala adalah puasa yang dilakukan dengan menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. Oleh karena itu, kita tidak boleh merasa cukup hanya dengan tidak makan dan minum, melainkan harus terus berupaya agar setiap detik puasa kita tercatat sebagai amal saleh yang diterima Allah.
Peran Niat Ikhlas dalam Menjaga Esensi Ibadah
Niat merupakan fondasi utama yang menentukan apakah sebuah amalan akan diterima atau ditolak oleh Allah SWT. Puasa yang berpahala haruslah didasari oleh niat yang murni karena iman dan hanya mengharapkan ganjaran dari Allah semata, bukan karena pujian manusia atau tradisi. Ustaz menekankan bahwa niat bukan hanya ucapan di lisan sebelum fajar, melainkan kesadaran hati yang terjaga sepanjang hari untuk tetap taat kepada-Nya.
Rasulullah bersabda:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu.” (HR. Muslim)
Tanpa keikhlasan, puasa seseorang rentan terhadap sifat ria atau keinginan untuk pamer kesalehan di hadapan orang lain. Allah adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu, sehingga jika ada sedikit saja niat selain karena-Nya dalam beribadah, maka Allah akan meninggalkan orang tersebut beserta amalnya. Keikhlasan inilah yang akan menjadi tameng agar kita tidak mudah tergiur melakukan hal-hal yang dapat merusak kualitas puasa kita.
Menjaga niat membutuhkan perjuangan yang terus-menerus (mujahadah) karena hati manusia bersifat fluktuatif. Kita harus sering melakukan pembaruan niat dan memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari niat-niat yang menyimpang. Dengan niat yang lurus dan ikhlas, puasa yang kita jalani akan terasa lebih ringan dan penuh dengan keberkahan, serta menjadi sarana yang efektif untuk mencapai derajat takwa.
Menahan Hati dari Penyakit Sombong dan Ria
Esensi dari tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan, sedangkan lawan dari takwa adalah kemaksiatan, termasuk maksiat hati. Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya dan dapat menghanguskan pahala puasa adalah kesombongan. Merasa diri lebih hebat dalam beribadah atau merendahkan kualitas puasa orang lain adalah tanda nyata bahwa puasa tersebut belum berhasil menyentuh sisi spiritual seseorang.
Rasulullah bersabda:
حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ أَنَّ دَرَّاجًا حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يَتَوَاضَعُ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ دَرَجَةً يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهِ دَرَجَةً وَمَنْ يَتَكَبَّرُ عَلَى اللَّهِ دَرَجَةً يَضَعُهُ اللَّهُ بِهِ دَرَجَةً حَتَّى يَجْعَلَهُ فِي أَسْفَلِ السَّافِلِينَ
Artinya: “Barang siapa tawadu’ (bersikap rendah diri) kepada Allah Swt. satu derajat, niscaya Allah akan mengangkatnya satu derajat, dan barang siapa bersikap sombong kepada-Nya satu derajat maka Allah akan merendahkan satu derajat hingga derajat yang paling hina. (HR. Ibnu Majah No. 4166)
Ustaz Suherman mengingatkan bahwa sifat sombong, sekecil apa pun, dapat menjadi penghalang seseorang untuk masuk surga. Selama berpuasa, hati harus dilatih untuk tetap rendah hati dan menyadari bahwa diterimanya amal adalah hak prerogatif Allah SWT. Menghina, membuli, atau mencaci maki orang lain—meskipun dalam kondisi lapar—adalah bukti kegagalan dalam menjaga hati dari penyakit-penyakit yang merusak pahala.
Selain sombong, sifat ria juga menjadi parasit yang menggerogoti tabungan pahala kita dari dalam. Berharap mendapatkan pujian atau pengakuan sebagai orang saleh hanya akan membuat lelahnya puasa kita berakhir sia-sia di akhirat nanti. Oleh karena itu, puasa harus dijadikan madrasah untuk membersihkan hati (tazkiyatun nafs), sehingga hasil akhirnya adalah pribadi yang bersih secara lahiriah maupun batiniah.