Isyarat Kuat di Masa-Masa Kritis Kenabian
Momen-momen terakhir kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dipenuhi dengan suasana yang sangat mengharukan sekaligus krusial bagi masa depan umat Islam. Ketika kesehatan beliau mulai menurun drastis hingga tidak mampu lagi menghadiri salat berjamaah di masjid, sebuah keputusan besar harus segera diambil. Isyarat mengenai siapa yang paling layak memegang kendali kepemimpinan setelah beliau tiada mulai ditunjukkan melalui urusan ibadah yang paling utama, yaitu salat.
Kisah yang menggetarkan hati ini diceritakan langsung oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha mengenai ketegasan perintah Rasulullah:
مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ
Artinya: “Perintahkan Abu Bakar untuk memimpin salat bagi manusia.”
Perintah ini tidak hanya keluar satu kali, melainkan diulang beberapa kali oleh Rasulullah di tengah rasa sakit yang beliau rasakan. Sahabat MQ dapat melihat bahwa urusan penunjukan imam salat ini merupakan perkara besar yang tidak boleh dianggap remeh atau sekadar kebetulan semata. Melalui ketetapan ini, Rasulullah sedang memberikan teladan logis bahwa urusan agama yang paling krusial harus diserahkan kepada orang yang paling utama di antara umat.
Dialog Mengharukan Antara Rasulullah dan Aisyah
Saat perintah untuk menjadikan Abu Bakar sebagai imam salat dikeluarkan, sempat terjadi kekhawatiran di benak keluarga Nabi, khususnya Aisyah. Sifat Abu Bakar yang sangat lembut dan mudah menangis ketika membaca Al-Qur’an dikhawatirkan membuat para jemaah tidak dapat mendengarkan bacaan salat dengan jelas karena larut dalam kesedihan. Namun, Rasulullah tidak menerima alasan tersebut dan tetap bersukukuh pada keputusan awal beliau tanpa ragu sedikit pun.
Respons tegas Rasulullah terhadap keberatan tersebut digambarkan dengan kalimat yang sangat mendalam:
سنن ابن ماجه ١٢٢٢: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ ح و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ وَقَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ لَمَّا ثَقُلَ جَاءَ بِلَالٌ يُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ تَعْنِي رَقِيقٌ وَمَتَى مَا يَقُومُ مَقَامَكَ يَبْكِي فَلَا يَسْتَطِيعُ فَلَوْ أَمَرْتَ عُمَرَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبَاتُ يُوسُفَ قَالَتْ فَأَرْسَلْنَا إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَوَجَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ وَرِجْلَاهُ تَخُطَّانِ فِي الْأَرْضِ فَلَمَّا أَحَسَّ بِهِ أَبُو بَكْرٍ ذَهَبَ لِيَتَأَخَّرَ فَأَوْمَى إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ مَكَانَكَ قَالَ فَجَاءَ حَتَّى أَجْلَسَاهُ إِلَى جَنْبِ أَبِي بَكْرٍ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْتَمُّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يَأْتَمُّونَ بِأَبِي بَكْرٍ
Sunan Ibnu Majah 1222: Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Mu’awiyah] dan [Waki’] dari [Al A’masy]. (dalam jalur lain disebutkan): Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Waki’] dari [Al A’masy] dari [Ibrahim] dari [Al Aswad] dari [‘Aisyah] ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang membawanya kepada kematian, Abu Mu’awiyah berkata: “Ketika sakit beliau semakin parah, Bilal datang kepada beliau memberitahukan datangnya waktu shalat, maka beliau bersabda: “Suruhlah Abu Bakar, dan perintahkan kepadanya agar shalat bersama orang-orang. ” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, Abu Bakar itu seorang laki-laki yang hatinya sangat lembut, jika ia menggantikanmu maka ia pasti menangis, bagaimana jika Umar saja yang engkau perintahkan untuk shalat bersama orang-orang?” beliau bersabda: “Suruhlah Abu Bakar, dan perintahkan kepadanya agar shalat bersama orang-orang. Sesungguhnya kalian (isteri-isteri nabi) seperti sahabat Yusuf, ” ‘Aisyah berkata: “Lalu kami mengutus seseorang kepada Abu Bakar hingga ia pun shalat bersama manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendapatkan sedikit kesegaran pada tubuhnya, beliau keluar untuk shalat dengan dipapah oleh dua orang, sementara kedua kaki beliau berjalan di atas tanah. Ketika Abu bakar merasakan kehadiran beliau, maka ia berniat mundur ke belakang. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat agar ia tetap shalat pada tempatnya. ” Abu Mu’awiyah berkata: “Beliau pun datang, dan beliau didudukkan di sisi Abu Bakar. Abu Bakar bermakmum kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara orang-orang bermakmum kepada Abu Bakar. “
Ketegasan penolakan Rasulullah terhadap intervensi pemikiran manusiawi ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut bersumber dari keyakinan yang bulat. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa di balik kelembutan hati Abu Bakar, terdapat kekuatan iman luar biasa yang dinilai paling layak oleh Nabi untuk menopang ketenteraman batin umat saat badai kesedihan melanda. Proses transisi kepemimpinan spiritual ini berjalan mulus di bawah pengawasan langsung sang pembawa risalah.
Fondasi Ijma Sahabat dalam Menegakkan Kepemimpinan
Keputusan Rasulullah menunjuk Abu Bakar sebagai imam salat berjamaah di akhir hayat beliau dipahami secara cerdas oleh seluruh sahabat sebagai isyarat kepemimpinan politik. Logika yang berkembang di antara para sahabat saat itu sangat sederhana namun mendalam: jika Rasulullah rida menunjuk Abu Bakar untuk urusan agama kita yang paling tinggi, mengapa kita tidak rida kepadanya untuk urusan dunia kita? Kesepakatan bulat atau ijma inilah yang kemudian melahirkan stabilitas kepemimpinan pascawafatnya Nabi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan bahwa kesepakatan kolektif umat Islam dalam kebaikan tidak akan pernah menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 115:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
Artinya: “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya.”
Berdasarkan prinsip ayat ini, jalan yang dipilih oleh para sahabat dalam mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pertama adalah jalan kebenaran yang dilindungi. Sahabat MQ dituntut untuk memandang peristiwa sejarah ini dengan kacamata iman yang jernih dan penuh rasa hormat. Menghargai legalitas kekhalifahan Abu Bakar berarti kita menjaga kontinuitas pemahaman Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi dengan cara yang aman dan damai.