dzulhijjah

Dzul-Hijjah adalah bulan Haram

Allah ﷻ berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ۝٣٦

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah: 36)

Rasulullah ﷺ bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).

Ayat dan Hadits diatas menegaskan bahwa Dzul-Hijjah termasuk dalam bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ﷻ. Dalam bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk menjauhi segala bentuk kezaliman dan memperbanyak amal saleh.

Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijjah

Allah ﷻ telah mengistimewakan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan berbagai keutamaan. Dalam Al Qur’an, Allah berfirman:

وَالْفَجْرِۙ ۝١ وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ ۝٢

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Para ulama, termasuk Ibnu Katsir, menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Bukhari)

Bulan Dzul-Hijjah dan Tauladan Nabi Ibrahim

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ۝٤

Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Akan tetapi, (janganlah engkau teladani) perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, tetapi aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata,) “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa sikap, keimanan, dan keteguhan Nabi Ibrahim dalam menghadapi tantangan adalah teladan yang layak diikuti oleh orang-orang beriman.

Selain itu, dalam Surat Al-Baqarah ayat 130 juga ditegaskan:

وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗۗ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَاۚ وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٣٠

Siapa yang membenci agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Kami benar-benar telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh. (QS. Al-Baqarah: 130)

Ayat diatas menekankan kemuliaan millah (jalan hidup) Nabi Ibrahim sebagai cerminan keimanan sejati yang menjadi panutan umat Islam.

Salah Satu Do’a Nabi Ibrahim Dalam Al’qur’an

Doa yang baik untuk dihafal, Yaitu do’anya Nabi Ibrahim ’Alaihissalam yang Allah abadikan dalam surah Asy Syua’ra ayat 83 sampai dengan 89, namun pada kesempatan singkat ini akan bersama membahas sebagiannya yaitu ayat 83 sampai dengan 85. Adapun syahid atau lafadz do’a dalam ayat tersebut adalah;

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَۙ ۝٨٣ وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَۙ ۝٨٤ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِۙ ۝٨٥

(Ibrahim berdoa,) “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh. Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.

Apa itu Hukman? Al-Hukman/Hikam = Jam’un Kalimatun Hikmah,

Berikut beberapa ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang lafadz hikmah

Allah Subhanahu Wata’aala menyebutkan hikmah ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, daintaranya;

Ayat Pertama:

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝٢٦٩

Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab. (QS. Al-Baqarah: 269)

Ayat Kedua:

وَشَدَدْنَا مُلْكَهٗ وَاٰتَيْنٰهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ ۝٢٠

Kami menguatkan kerajaannya serta menganugerahkan hikmah (kenabian) kepadanya dan kemampuan dalam menyelesaikan perkara. (QS. Shaad: 20)

Ayat Ketiga:

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَۘ اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًاۚ وَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ وَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًا ۢ بِاِذْنِيْ وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ ۝١١٠

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. (Ingatlah) ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) hikmah, Taurat, dan Injil. (Ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah (sesuatu) seperti bentuk burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) pada waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Al-Maidah: 110)

Ayat Keempat:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍۗ وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا ۝١١٣

Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Nabi Muhammad), tentu segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Akan tetapi, mereka tidak menyesatkan, kecuali dirinya sendiri dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah) kepadamu serta telah mengajarkan kepadamu apa yang tadinya belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar. (QS. An-Nisaa’: 113)

Adapun penjelasan ulama tentang hikmah, diantaranya;

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan bahwa hikmah akan membuahkan ilmu, bahkan amalan. Oleh karenanya, hikmah ditafsirkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan saleh. Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Hikmah adalah ilmu yang benar dan pengetahuan akan berbagai hal dalam Islam. Orang yang memiliki hikmah akan mengetahui rahasia-rahasia di balik syari’at Islam. Jadi, orang bisa saja ‘alim (memiliki banyak ilmu), tetapi belum tentu memiliki hikmah. Hikmah berkonsekuensi memiliki ilmu dan amal. Hikmah dapat diartikan dengan ilmu dan amal saleh.” (Tafsir As Sa’di, hlm. 686)

Jadi kaitannya dengan do’a tersebut adalah permintaan kepada Allah agar menjadikan kita pribadi yang penuh hikmah, yaitu ilmu kita bertambah, semangat beramal kita meningkat, kearifan kita juga makin terasah, Runtutannya Ilmu, faham lalu hikmah.

Dalam pengertian lain, hikmah menurut Ibnu Qayyim Rahimahullah,
Hikmah adalah melakukan perbuatan yang pantas, dengan cara yang pas, pada waktu yang tepat. (Madaarijus Saalikin, jilid 2, hlm.449)

“Dan dekatkan kami dengan orang-orang shaleh”. (83)

Bergaul dengan orang saleh. Salah satu langkah untuk mendapatkan kebahagiaan adalah menjadi orang saleh, baik saleh sosial atau spiritual. Namun, menjadi saleh bukanlah hal yang mudah, membutuhkan proses, riyadhah, waktu dan pengorbanan. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah bergaul dengan orang saleh. Tujuannya supaya kita termasuk dalam golongan mereka. Berkumpul dengan teman teman yang saleh dapat mengantarkan pada kebaikan, seperti teman-teman yang ada di majelis ilmu.

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata:
Penawar hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa), qiyamul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahur (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih”. (Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107; Tahqiq: Syu’aib al Arnauth)

Pada ayat 83 ini, Nabi Ibrahim ’Alaihissalam bermohon agar dianugerahi hikmah. Hikmah dapat disimpulkan dari beberapa keterangan diatas berarti ilmu pengetahuan yang diamalkan dengan baik. Adapun dalam hubungannya dengan kepribadian orang yang shaleh, hikmah diartikan sebagai petunjuk Allah dalam beramal, dengan taufik Allah ia terlepas dari segala perbuatan dosa besar maupun dosa kecil. Sementara itu ahli tafsir yang lain ada yang mengartikan hikmah dengan perlakuan yang adil terhadap sesama manusia dalam memutuskan suatu perkara.

Dalam kaitannya dengan doa nabi Ibrahim ini, lafadz hikmah ditafsirkan sebagai pengetahuan tentang ketauhidan dan ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Nabi Ibrahim berdoa pula agar dimasukkan ke dalam lingkungan orang-orang yang baik, dan pada golongan yang senantiasa bertawakal kepada-Nya.

Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah berdoa seperti doa Nabi Ibrahim, yakni:
“Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang saleh, bukan golongan orang-orang yang hina dan tertimpa musibah (fitrah).” (Hr. Aḥmad dari Rifā’ah bin Rāfi’)

“Dan jadikanlah hamba menjadi buah tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (84)

Kita memohon kepada Allah agar dijadikan pembicaraan yang baik oleh generasi setelah kita, maksudnya adalah jika kita meninggal atau wafat yang akan dikenang oleh orang adalah kebaikan bukan kebalikannya.

Selanjutnya pada ayat 84 ini, Nabi Ibrahim berdoa agar nama baik beliau menjadi buah bibir yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian, sehingga beliau menjadi suri teladan yang utama sampai hari Kiamat, ini pun dikabulkan Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, “Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. As-Saffat/37: 108-110).

Janji Allah dalam ayat di atas dibuktikan kebenarannya dalam lembaran sejarah kenabian. Banyak sekali dari keturunan Nabi Ibrahim yang menjadi nabi dan rasul Allah, baik dari keturunan Ismail ataupun dari keturunan Ishak. Agama-agama besar di dunia (Islam, Kristen dan Yahudi) masing-masing menyandarkan agamanya kepada Nabi Ibrahim.

Oleh sebab itu, beliau dimuliakan dan dihormati oleh berbagai agama menurut caranya masing-masing. Berdasarkan keterangan ini, wajarlah andaikata mereka menganggap Ibrahim adalah seorang Yahudi (menurut pengakuan orang Yahudi). Demikianlah pula halnya Ibrahim dipandang sebagai orang Nasrani (menurut kepercayaan agama Nasrani), sebab Isa Almasih putra Maryam juga masih keturunan Nabi Ibrahim.

Tegasnya dalam sejarah kenabian, Nabi Ibrahim dianggap sebagai Abul Ambiya yaitu bapaknya para nabi. Akan tetapi, semua klaim bahwa Nabi Ibrahim itu penganut Yahudi atau Nasrani, atau penganut agama tertentu tidak benar. Al-Qur’an membantah keyakinan demikian:

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik”. (QS. Ali ‘Imran: 67)

Adapula ulama mentafsirkan makna menjadi buah tutur yang baik dalam doa ini ialah maksudnya Nabi Muhammad. Karena beliau memang keturunan Nabi Ibrahim (dari pihak Ismail) dan yang terakhir yang diangkat sebagai nabi dan rasul. Risalah Nabi Muhammad (dan juga para nabi) adalah risalah agama tauhid. Rasulullah sendiri dalam sebuah hadis mengatakan:

“Aku ini (pelaksanaan bagi terkabulnya) doa Ibrahim”. (Riwayat Muslim dari ‘Aisyah).

Pada hakikatnya agama yang disampaikan Nabi Muhammad merupakan lanjutan dari ajaran yang disampaikan Nabi Ibrahim.

”Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan.” (85)

Pada ayat 85 ini, Setelah Nabi Ibrahim memohon pahala keduniawian, yakni dengan dijadikan nama baiknya sebagai suri teladan bagi orang-orang sesudahnya, ia pun berdoa pula agar menikmati balasan amalnya di akhirat. Yakni nikmat kesenangan surga beserta orang-orang yang diperkenankan masuk ke dalamnya. Ungkapan ayat ini memakai kata-kata “yang mewarisi surga”, karena diserupakan dengan kesenangan yang diperoleh seorang raja dalam kerajaan yang diwarisi dari bapaknya.

Adapun Secara Umum Ada Lima Perkara Yang Menjadikan Terkabulnya Doa’ Bi’idznillah, Diantaranya:

As-Sa’ah/Waktu, Yaitu memilih waktu yang utama. Seperti waktu sahur, diakhir/penghujung shalat wajib, antara adzan dan iqamat, pada saat terakhir dihari jumat (setelah ‘ashr), saat Imam masuk masjid (khatib naik mimbar) hingga selesai shalat jumat, dan saat berbuka puasa.

Al-Maakan/Tempat, Yaitu memilih tempat yang afdhal (terbaik/utama),seperti masjid, Kota Makkah, Madinah dan sebagainya.

Ash-Shifat/Kondisi, Yaitu kondisi orang berdoa, Seperti;

  1. Saat dalam perjalanan karena orang yang dalam perjalanan (musafir) do’anya mustajab,
  2. Seorang ayah mendoakan anaknya,
  3. Orang yang sedang berpuasa,
  4. Orang yang di medan perang karena doa pada saat bertemunya dua pasukan mustajab,
  5. Orang yang terdzalimi karena doa orang terdzalimi tidak tertolak bahkan diangkat oleh Allah keatas awan sebagaimana diterangkan dalam hadits,

“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata: Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR At Thabrani)

Kaifiyat/Tata cara, Yaitu keadaan ketika berdo’a. Hendaknya orang yang berdoa’ memperhatikan adab-adab berdo’a, seperti;

  1. Dalam keadaan berwudhu,
  2. Menghadap qiblat,
  3. Mengangkat kedua tangan,
  4. Mengulangi do’a sebanyak tiga kali, memilih do’a yang singkat tapi padat (kandungannya),
  5. Memperbaiki makanan (mengkosumsi makanan yang baik/halal),
  6. Bertawassul dengan asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang tinggi,
  7. Tidak meminta yang mengandung dosa pemutusan silaturrahmi, dan adab-adab lain yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Tarkul-Illat/Menghindarkan Penghalang, yaitu ikhtiar menghilangkan penghalang terkabulnya Doa’.

Ada beberapa hal yang menghalangi terkabulnya do’a. Diantaranya memakan yang
haram entah itu dari sumber riba, menipu, memperlaris barang (jualan) dengan sumpah palsu, memakan harta anak yatim, dan sebagainya. Dalam shahih Muslim diterangkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang:

“Seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut masai, berdebu, ia mengangkat tangannya ke langit (seraya berkata): Wahai Rabb, wahai Rabb, tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakayannya haram, dia tumbuh dengan yang haram, bagaimana mungkin dikabulkan permohonannya?

Disusun Oleh:
Dr. (c). Tedhi Abu Humam, S.Kom.I., M.Sos.
Dosen & Kaprodi KPI STAI Daarut Tauhiid.

Program: Inspirasi Pagi – Dialog Umat
Narasumber: Dr. (c). Tedhi Abu Humam, S.Kom.I., M.Sos. – Dosen & Kaprodi KPI STAI Daarut Tauhiid.
Penyiar: Muhammad Huda