Ibadah

Kritik Ulama Salaf terhadap Ibadah Musiman

Kita mungkin sering memperhatikan fenomena di mana masjid dan musala mendadak sepi segera setelah gema takbir hari raya berlalu. Fenomena ini menjadi perhatian serius yang dibahas oleh Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag, karena sejatinya ketaatan kita kepada Sang Pencipta tidaklah dibatasi oleh kalender atau bulan tertentu saja. Kita bisa merenungkan pesan mendalam dari Imam Bisyar yang mengingatkan bahwa sejelek-jeleknya kaum adalah mereka yang hanya mengenal hak-hak Allah di bulan Ramadan saja.

Pesan ini mengajak kita semua, Sahabat MQ, untuk mengevaluasi kembali niat dalam beribadah yang telah kita jalankan selama ini. Kita bisa mencoba menjaga agar api semangat yang menyala terang selama Ramadan tetap hangat di dalam dada, sehingga setiap sujud kita tetap terjaga konsistensinya. Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag menekankan bahwa bukti keberhasilan pendidikan Ramadan adalah ketika kita mampu membawa karakter mulia tersebut ke bulan-bulan berikutnya dengan penuh ketulusan.

Hal ini mengingatkan kita pada hakikat penghambaan yang utuh, sebagaimana hamba-hamba Allah yang saleh digambarkan oleh para ulama terdahulu mengenai konsistensi dalam beramal:

إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا

Artinya: “Sesungguhnya orang yang saleh adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh (beramal) di seluruh waktu (sepanjang tahun).”.

Mari kita jadikan bulan Syawal ini sebagai langkah awal Sahabat MQ, untuk membuktikan bahwa kesalehan kita bukanlah sekadar hiasan musiman yang hilang saat Ramadan usai.

Batasan Amal Hanyalah Kematian

Dalam menjalani kehidupan beragama, kita bisa memahami bahwa tidak ada istilah “libur” atau “pensiun” dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag menjelaskan bahwa selama napas masih berembus dan jantung masih berdetak, kewajiban untuk menghamba tetap melekat erat pada diri setiap mukmin. Kita bisa mencoba melihat bulan Syawal ini sebagai awal dari perjuangan yang sesungguhnya untuk mempertahankan apa yang telah kita bangun dengan susah payah selama satu bulan penuh.

Ajal adalah satu-satunya garis finis dari perlombaan amal yang sedang kita jalani saat ini, bukan berakhirnya sebuah bulan suci. Oleh karena itu, penurunan semangat ibadah pasca Ramadan merupakan ujian yang perlu kita hadapi dengan penuh kesadaran dan kesabaran demi meraih rida-Nya. Kita bisa saling menguatkan, Sahabat MQ, agar tidak terlena dengan euforia kemenangan lebaran hingga melupakan esensi dari tujuan utama penciptaan kita di dunia ini.

Kewajiban untuk terus beramal hingga ajal menjemput ini telah ditegaskan oleh Allah dengan sangat indah dalam Surah Al-Hijr ayat 99:

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”.

Ayat ini seolah menjadi pemandu bagi kita, Sahabat MQ, agar tetap istikamah di jalan dakwah dan ibadah tanpa mengenal rasa lelah hingga saat pertemuan dengan Sang Khalik tiba.

Bahaya Kembali pada Kebiasaan Buruk

Satu hal yang perlu kita waspadai bersama adalah godaan untuk kembali melakukan kelalaian atau kemaksiatan setelah bulan suci berlalu. Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag memberikan peringatan yang sangat berharga bahwa salah satu bentuk hukuman atas sebuah dosa adalah ketika seseorang dimudahkan untuk melakukan dosa berikutnya. Kita bisa mencoba lebih mawas diri, Sahabat MQ, agar benteng takwa yang sudah dibangun tidak runtuh begitu saja akibat kelengahan kita dalam menjaga hati.

Jika kita mulai merasa malas dalam beribadah atau kembali akrab dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, itulah saatnya kita memperbanyak istigfar dan memohon kekuatan. Mari kita jaga agar momentum Syawal ini menjadi sarana perbaikan diri yang berkelanjutan, bukan justru menjadi pintu kembali ke masa lalu yang kurang baik. Keistiqamahan kita pasca Ramadan adalah investasi terbaik Sahabat MQ, bagi ketenangan jiwa kita di akhirat kelak yang abadi.

Peringatan mengenai hal ini tersirat dalam hikmah yang sering disampaikan para ahli ilmu mengenai hubungan sebab-akibat antar perbuatan manusia:

وَعُقُوبَةُ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

Artinya: “Dan sesungguhnya di antara ciri hukuman dari perbuatan dosa itu adalah melakukan perbuatan buruk (lagi) setelahnya.”.

Dengan menyadari hal ini, kita bisa mengajak hati kita Sahabat MQ, untuk selalu rindu akan ketaatan dan menjauhi segala bentuk kelalaian demi menjaga martabat iman kita.