Sholat

Bahaya Sikap Berpuas Diri Setelah Beramal

Setelah melewati bulan Ramadan dengan berbagai rangkaian ibadah yang padat, terkadang muncul perasaan di dalam hati kita bahwa kita telah “cukup” beramal. Kita bisa mencoba merenungkan pesan dari Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag, bahwa sikap merasa sudah saleh atau sudah banyak beribadah justru bisa menjadi titik awal kelalaian. Syawal hadir bukan sebagai masa cuti dari ketaatan, melainkan sebagai ajang pembuktian apakah ibadah yang kita lakukan benar-benar membekas dalam jiwa atau hanya sekadar rutinitas tahunan.

Kita bisa mencoba lebih mawas diri, Sahabat MQ, agar tidak terjebak dalam rasa bangga diri (ujub) yang dapat menghapuskan pahala amal saleh kita. Rasa puas yang berlebihan sering kali membuat seseorang menjadi malas untuk bangun di sepertiga malam atau mulai melalaikan salat berjemaah di masjid. Padahal, para ulama mengajarkan bahwa tanda diterimanya amal adalah ketika seseorang semakin rendah hati dan merasa semakin butuh kepada rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga kualitas batin dalam setiap amal, sebagaimana peringatan mengenai dampak dari perbuatan yang kurang tulus:

وَعُقُوبَةُ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

Artinya: “Dan sesungguhnya di antara ciri hukuman dari perbuatan dosa itu adalah melakukan perbuatan buruk (lagi) setelahnya.”.

Melalui pesan ini, kita diajak Sahabat MQ, untuk tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa adanya peningkatan kualitas ketakwaan kepada-Nya.

Menjadikan Ibadah Sebagai Kebutuhan Ruhani

Kita bisa mencoba mengubah sudut pandang kita, Sahabat MQ, dari melihat ibadah sebagai beban kewajiban menjadi sebuah kebutuhan ruhani yang mendesak. Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag menekankan bahwa jiwa yang sehat adalah jiwa yang senantiasa merasa lapar akan zikir dan haus akan rida Allah. Jika kita sudah menganggap ibadah sebagai kebutuhan, maka tidak akan ada kata lelah atau bosan dalam menjalankannya, meskipun bulan Ramadan telah lama berlalu.

Bayangkan jika kita mampu menjaga konsistensi dalam membaca Al-Qur’an dan salat sunah di bulan Syawal ini dengan rasa cinta yang sama seperti saat Ramadan. Langkah kecil yang kita ambil secara rutin, Sahabat MQ, akan membentuk karakter mukmin yang tangguh dan tidak mudah goyah oleh perubahan suasana. Mari kita jadikan setiap ketaatan yang kita lakukan sebagai sarana untuk menenangkan hati dan menjernihkan pikiran dari hiruk-pikuk urusan duniawi yang sering kali menyita waktu kita.

Konsep kecintaan pada amal yang berkelanjutan ini sangat dicintai oleh Allah, sebagaimana tujuan akhir dari puasa itu sendiri:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “…agar kamu bertakwa.”.

Kata “agar” di sini mengajak kita Sahabat MQ, untuk menyadari bahwa takwa adalah mahkota yang harus kita perjuangkan setiap hari, bukan hanya saat bulan suci tiba.

Memohon Ketetapan Hati dalam Ketaatan

Dalam perjalanan menjaga istikamah, kita tentu menyadari bahwa hati manusia sangatlah dinamis dan mudah berubah-ubah. Kita bisa mencoba mengikuti teladan yang disampaikan oleh Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag, untuk senantiasa memohon ketetapan hati kepada Allah agar tidak dipalingkan dari jalan hidayah. Kekuatan doa adalah senjata utama kita, Sahabat MQ, saat rasa malas atau godaan untuk kembali pada kebiasaan buruk mulai menyapa kembali di bulan Syawal ini.

Meluangkan waktu sejenak di antara waktu salat untuk berdoa agar diberikan kekuatan dalam beribadah adalah langkah yang sangat mulia. Kita bisa mengajak diri sendiri dan orang-orang tercinta untuk terus berada dalam lingkaran kebaikan yang saling mengingatkan dalam kesabaran. Dengan bersandar sepenuhnya pada pertolongan Allah, Sahabat MQ akan merasakan bahwa menjaga amal saleh ternyata mendatangkan kebahagiaan yang jauh lebih abadi daripada kesenangan duniawi sesaat.

Kewajiban untuk terus menghamba hingga garis akhir kehidupan telah ditegaskan secara nyata dalam firman-Nya:

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”.

Ayat ini seolah menjadi pengingat lembut bagi kita Sahabat MQ, bahwa istirahat sejati bagi seorang mukmin hanyalah ketika langkah kaki ini telah menginjakkan kaki di surga kelak.


Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita agar tetap teguh dalam ketaatan, Sahabat MQ.