Lisan Sebagai Senjata Tajam yang Tak Kasat Mata

Sahabat MQ, banyak orang merasa leluasa melontarkan candaan atau komentar tanpa mempertimbangkan perasaan lawan bicaranya. Atas nama kedekatan atau keakraban, kata-kata yang menjatuhkan sering kali dianggap sebagai angin lalu yang tidak berbahaya. Padahal, luka yang disebabkan oleh sayatan lisan sering kali lebih perih dan lama sembuhnya dibandingkan luka fisik.

Sahabat MQ, kebiasaan berbicara tanpa saringan adalah indikasi hati yang kering dari empati dan kesadaran spiritual. Satu kalimat sepele yang meluncur begitu saja bisa menjadi penyebab hancurnya hubungan persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun. Lisan adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga ketat agar tidak menjadi mesin pencetak dosa di setiap harinya.

Rasulullah SAW telah memperingatkan betapa bahayanya satu kata yang diucapkan tanpa dipikirkan akibatnya:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, ia tidak memperdulikannya, (namun) kalimat itu membuatnya terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari).

Menjaga Kehormatan Sesama dalam Setiap Pergaulan

Menghargai orang lain dimulai dari kemampuan menjaga mulut dari membicarakan aib dan kekurangan mereka. Lingkungan pertemanan yang sehat adalah lingkungan yang tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan tertawaan. Saat kita melindungi kehormatan saudara kita dari gunjingan, Allah akan melindungi kehormatan kita di dunia dan di akhirat.

Latihlah diri ini, sahabat MQ, untuk memiliki rem otomatis saat obrolan mulai mengarah pada fitnah atau gibah. Memilih diam atau menyingkir dari majelis penggunjing adalah tindakan ksatria yang menyelamatkan pahala ibadah kita. Jangan biarkan amal saleh yang kita kumpulkan dengan susah payah dirampas oleh orang yang kita bicarakan.

Al-Qur’an menggambarkan perbuatan menggunjing sesama saudara dengan perumpamaan yang sangat mengerikan agar kita menjauhinya:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Zikir Sebagai Pengganti Obrolan yang Sia-sia

Cara terbaik mengendalikan lisan adalah dengan menyibukkannya dengan kalimat-kalimat pujian kepada Allah. Ketika mulut terbiasa berzikir, akan timbul rasa enggan dan canggung jika harus mengucapkan kata-kata kotor atau makian. Zikir bertindak sebagai penyaring alami yang menjaga kesucian kata-kata yang keluar dari bibir kita.

Jadikanlah kalimat zikir sebagai teman perjalanan, sahabat MQ, entah saat sedang berkendara maupun menunggu antrean. Hati yang selalu tersambung dengan zikir akan melahirkan pikiran jernih, sehingga kata-kata yang diucapkan selalu membawa kesejukan bagi pendengarnya. Inilah rahasia menjadi pribadi yang kehadirannya selalu dinantikan oleh orang-orang di sekitar.

Sebuah janji keselamatan yang pasti dari Nabi SAW bagi mereka yang mahir mengendalikan dua bibirnya:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadanya jaminan surga.” (HR. Bukhari).