Mengubah Paradigma, Parenting Bukan Hanya Tugas Ibu

Di tengah masyarakat kita, masih sering muncul anggapan bahwa urusan mendidik anak adalah tanggung jawab penuh seorang ibu, sementara ayah hanya berfokus pada mencari nafkah. Padahal, Sahabat MQ, pengasuhan yang ideal dan seimbang selalu membutuhkan kehadiran fisik serta ikatan emosional yang kuat dari kedua belah pihak. Anak sangat membutuhkan sosok ayah sebagai pelindung yang tegas dan sosok ibu sebagai sumber kelembutan agar tumbuh kembang psikologisnya menjadi stabil.

Ketidakhadiran salah satu peran dalam keseharian anak dapat menimbulkan celah kekosongan jiwa yang rentan dimanfaatkan oleh pengaruh buruk dari luar. Terlebih di era digital yang serba terbuka ini, benteng pertahanan moral keluarga harus dibangun secara bersama-sama. Ketika ayah dan ibu bersinergi meluangkan waktu bersama, anak akan merasakan energi cinta yang utuh, sehingga mereka tidak mudah goyah atau mencari pelarian di dunia maya.

Islam sangat menjunjung tinggi kerja sama dalam kebaikan, apalagi dalam membina mahligai rumah tangga yang sakinah. Allah SWT berfirman mengenai indahnya sikap saling menolong dalam kebaikan pada QS. Al-Ma’idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” Bekerja sama secara aktif dalam mendidik titipan-Nya adalah bentuk takwa yang paling nyata bagi pasangan suami istri.

Menyamakan Visi dan Misi Pengasuhan Sejak Dini

Salah satu tantangan terbesar dalam mendidik anak adalah ketika suami dan istri memiliki pandangan yang berlawanan mengenai aturan di rumah. Sahabat MQ mungkin pernah mengalami situasi di mana ibu melarang suatu hal, namun ayah justru membolehkannya karena merasa kasihan. Jika rutinitas ini sering terjadi, anak akan mengalami kebingungan dan berpotensi memanfaatkan celah tersebut untuk menghindari kedisiplinan.

Oleh karena itu, duduk bersama untuk menyamakan visi dan misi pengasuhan adalah langkah mutlak yang tidak boleh dilewatkan oleh setiap pasangan. Diskusikan secara matang batasan-batasan apa saja yang harus diterapkan, termasuk aturan jam bermain gawai, jam belajar, hingga jam malam. Kesepakatan yang solid ini akan menjadi panduan yang kokoh dan tidak akan mudah dipatahkan oleh rengekan sesaat dari anak.

Rasulullah SAW selalu menekankan betapa pentingnya keselarasan dan kelembutan dalam mengelola setiap urusan agar membawa hasil yang berkah. Beliau bersabda:

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu, melainkan akan memperburuknya” (HR. Muslim). Kelembutan yang dibangun dari kesepahaman yang kuat antara suami dan istri pasti akan menghiasi suasana rumah dengan kedamaian.

Menyelesakan Perbedaan Pendapat Tanpa Terlihat Anak

Menyatukan dua isi kepala tentu tidak selamanya berjalan mulus dan tanpa hambatan. Perbedaan pendapat antara suami dan istri dalam merespons tingkah laku anak adalah hal yang sangat wajar terjadi dalam dinamika keluarga. Namun, Sahabat MQ harus berpegang teguh pada satu prinsip penting: jangan pernah berdebat keras mengenai pola asuh tepat di hadapan anak, karena hal tersebut dapat meruntuhkan kewibawaan orang tua.

Jika terjadi ketidaksepahaman yang cukup tajam, belajarlah untuk menahan diri sejenak dan selesaikan persoalan tersebut di ruang tertutup saat suasana hati sudah mendingin. Tunjukkan sikap saling menghargai dan mendukung saat berada di depan anak, sehingga mereka memahami bahwa orang tuanya adalah satu kesatuan tim yang tidak bisa diadu domba. Kekompakan luar biasa inilah yang akan menanamkan rasa segan dan hormat yang mendalam di hati mereka.

Rumah tangga yang selalu diliputi dengan komunikasi harmonis akan memancarkan cahaya keberkahan yang menghangatkan jiwa setiap penghuninya. Mari kita resapi kembali sabda mulia Rasulullah SAW tentang keutamaan berbuat baik kepada keluarga:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku” (HR. Tirmidzi). Menjaga kekompakan bersama pasangan dalam mendidik buah hati adalah ikhtiar mulia yang sangat dicintai oleh Allah SWT.