prayer-woman-worship-god-morning-with-sunrise-sky-background_752325-152587

Menjadi Perempuan Pembelajar

Sahabat MQ, Sebagai seorang muslim, siapa pun tentu dituntut untuk terus belajar. Namun, siapa yang sangat berperan besar dalam keluarga? Tentu saja seorang perempuan, karena perannya yang begitu luas dan penting dalam kehidupan sehari-hari. Seorang perempuan perlu terus belajar karena ia berperan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya dan teladan di dalam rumah tangga.

Perempuan pembelajar adalah sosok yang tidak berhenti menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun pengetahuan kehidupan. Ia memahami bahwa belajar bukan sekadar untuk menjadi pintar atau berpendidikan tinggi, melainkan untuk memperbaiki diri, menunaikan peran dengan baik, dan menjadi hamba Allah yang berilmu. 

Seringkali perempuan hanya dianggap cukup dengan bisa mengurus rumah, memasak, dan mengurus anak. Padahal, perempuan bukan sekadar makhluk biologis, melainkan memiliki jati diri (self identity) yang mulia. Perempuan bukan hanya karena memiliki organ reproduksi, tetapi karena ia menyadari dan menghayati perannya sebagai perempuan yang diciptakan Allah dengan potensi besar untuk berbuat kebaikan dan berkontribusi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menciptakan perbedaan itu dengan penuh hikmah. Secara psikologis dan biologis, perempuan memang berbeda dari laki-laki. Namun, perbedaan ini bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan agar keduanya bisa saling melengkapi.

Belajar, menurut banyak ulama termasuk Imam Al-Ghazali, adalah proses untuk memperoleh ilmu. Dalam Islam, ilmu dibagi menjadi dua: fardu ‘ain dan fardu kifayah. Ilmu fardu ‘ain wajib dipelajari setiap muslim karena berkaitan dengan pengenalan dan ketaatan kepada Allah, seperti ilmu tentang akidah, ibadah, dan akhlak. Sementara ilmu fardu kifayah adalah ilmu yang dibutuhkan untuk kepentingan umum, seperti profesi dan keahlian tertentu.

Perempuan bisa menyisihkan waktu di sela-sela kesibukan rumah tangga untuk terus menambah ilmu. Misalnya dengan membaca buku, mengikuti kajian, atau belajar dari pengalaman hidup. Ilmu fardu ‘ain harus menjadi prioritas utama karena akan mengantarkan perempuan menjadi hamba Allah yang beriman dan berilmu. Setelah itu, barulah ilmu fardu kifayah dapat dikejar untuk mendukung profesi atau keterampilan yang dibutuhkan.

Menjadi perempuan pembelajar adalah panggilan fitrah dan amanah dari Allah. Di mana pun dan kapan pun, perempuan perlu terus menumbuhkan semangat belajar agar mampu menjalankan peran sebagai istri, ibu, dan hamba Allah dengan sebaik-baiknya. Sebab, dari perempuan yang berilmu dan berakhlak baik, akan lahir generasi yang cerdas, kuat, dan beriman.

Program: Inspirasi Keluarga – Sekolah Ibu
Narasumber: Dr. Dinar Dewi Kania, M.M., M. Sos. | Ketua Bidang Kajian dan Hukum AILA indonesia.
Penyiar: Asila Ghania