Meluruskan Niat dan Menumbuhkan Tawadhu dalam Menuntut Ilmu
Niat adalah pondasi utama dalam setiap amal. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa niat merupakan kondisi dan sifat hati yang menjadi dasar dari setiap ilmu dan amal. Tempatnya niat ada di dalam hati — sehingga baik buruknya amal sangat bergantung pada niat yang melandasinya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam ushul fikih, niat disebut “al-ashlu” — pondasi dari segala amal. Jika niatnya lurus karena Allah, maka setiap aktivitas belajar menjadi ibadah dan bernilai akhirat. Bahkan amalan dunia seperti makan, minum, dan bekerja, bila diniatkan untuk mendukung ketaatan kepada Allah, akan berubah menjadi amalan akhirat.
Setiap penuntut ilmu — baik santri, pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum — wajib meluruskan niatnya. Niat bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan duniawi, tetapi untuk meraih ridha Allah, menghilangkan kebodohan, menghidupkan agama, serta menegakkan Islam.
Niat harus diluruskan sejak awal proses belajar dan dijaga hingga akhir. Bahkan sebelum memulai setiap aktivitas, seorang Muslim dianjurkan memperbaharui niatnya agar ilmunya menjadi keberkahan, bukan sekadar pengetahuan kosong. Niat bukan di lisan, tetapi tertanam di dalam hati. Ia menjadi penentu diterima atau tidaknya amal. Karena itu, memperbaiki hati adalah bagian penting dalam proses menuntut ilmu.
Bagaimana cara menjaga niat?
– Niatkan belajar karena Allah, bukan karena pujian atau kedudukan.
– Sadari bahwa ilmu adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
– Jadikan ilmu sebagai jalan ibadah dan dakwah.
– Sertai dengan sikap tawadhu — rendah hati, bukan rendah diri atau sombong.
Sikap tawadhu (rendah hati) adalah ciri orang berilmu yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa merendahkan diri (tawadhu), maka Allah akan mengangkat derajatnya. Dan barangsiapa sombong, maka Allah akan merendahkannya.” (HR. Muslim)
Tawadhu berada di antara kesombongan dan kehinaan diri. Ia bukan berarti minder, melainkan sadar bahwa semua ilmu dan kemampuan adalah karunia Allah.
Program: Inspirasi Malam – Kajian Ahklak
Narasumber: Ustadz Olis Abdul Kholis
Penyiar: Krisna Bahri