anakdanayah

Menjadi Pendengar yang Empatik Tanpa Terburu-buru Menghakimi

Sahabat MQ, sering kali, ketika anak bercerita tentang masalahnya di sekolah atau dengan teman-temannya, respons refleks orang tua adalah langsung menasihati, menyalahkan, atau memotong pembicaraan. “Makanya, kan Ummi sudah bilang…” atau “Itu sih salah kamu sendiri…” Kalimat-kalimat seperti ini adalah pembunuh percakapan (conversation killer) yang membuat anak kapok bercerita lagi.

Islam mengajarkan kita untuk mengedepankan kelembutan dalam berinteraksi, terutama kepada darah daging kita sendiri. Saat anak bercerita, turunkan pandangan kita sejajar dengan matanya, hentikan aktivitas kita (terutama dari gawai), dan dengarkan dengan sepenuh hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan betapa pentingnya unsur kelembutan ini:

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (menjadikannya indah), dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)

Tampung emosi mereka terlebih dahulu. Jika mereka sedih, validasi kesedihannya. Ketika hati anak merasa dipahami dan diterima (tanpa dihakimi), barulah nasihat kebaikan bisa masuk dengan mudah ke dalam akal mereka.

Memanggil dengan Sebutan Kesayangan yang Membanggakan

Nama dan panggilan adalah doa sekaligus jangkar emosi. Sering kali, saat orang tua sedang marah, panggilan kepada anak berubah menjadi kaku atau bahkan menggunakan kata ganti yang kasar. Hal ini akan merenggangkan ikatan emosional antara anak dan orang tua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan teladan yang sangat indah dalam memanggil anak-anak dan anggota keluarganya. Beliau tidak pernah memanggil dengan sebutan buruk, melainkan menggunakan panggilan kesayangan yang menyejukkan hati. Kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang saat itu masih kecil dan menjadi pelayan beliau, Nabi memanggilnya dengan penuh kasih sayang:

يَا بُنَيَّ

“Wahai anakku sayang…” (HR. Muslim)

Beliau juga sering memendekkan nama (tarkhim) sebagai bentuk keakraban, seperti memanggil Bunda Aisyah dengan sebutan “Ya Aisy” (Wahai Aisyah). Mulailah membiasakan memanggil anak kita dengan sebutan “Anak salehku”, “Putri Ummi yang cantik”, atau nama panggilan kesayangan mereka. Panggilan yang positif akan membentuk gambar diri (self-image) yang positif pula pada anak.

Mencairkan Suasana Lewat Canda Tawa dan Bermain Bersama

Kewibawaan orang tua tidak diukur dari seberapa sering ia memasang wajah kaku dan menakutkan di dalam rumah. Justru, rumah yang Islami adalah rumah yang dipenuhi dengan keceriaan, senyum, dan canda tawa anggota keluarganya. Anak-anak membutuhkan sosok orang tua yang bisa menjadi sahabat bermain, bukan sekadar “komandan” yang hanya tahu memberikan instruksi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun memikul beban umat yang sangat berat, adalah sosok yang paling suka bercanda dan membahagiakan keluarganya. Beliau pernah berlomba lari dengan Aisyah, dan sering membiarkan cucu beliau, Hasan dan Husain, menaiki punggungnya saat beliau sedang sujud. Beliau menegaskan bahwa standar kebaikan seorang muslim diukur dari bagaimana sikapnya di dalam rumah:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Sediakan waktu khusus setiap hari (quality time) untuk sekadar bercengkerama, bermain tebak-tebakan, atau menceritakan kejadian lucu hari itu. Tawa yang dibagi bersama akan melepaskan hormon kebahagiaan yang mengikat batin anak kepada orang tuanya lebih kuat daripada sekadar memberikan fasilitas materi.