Menelisik Dibalik Kekacauan Sudan
MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Sahabat MQ, Sudan bukan sekadar konflik jauh di Afrika, tetapi juga menjadi cerminan kegagalan dunia dalam menjaga perdamaian dan keadilan bagi sesama umat manusia. Mayoritas penduduk Sudan adalah Muslim, lebih dari 90,7%, yang semestinya menjadi bagian dari keluarga besar dunia Islam. Karena itu, isu Sudan penting untuk kita telisik kembali—bukan hanya dalam konteks perjuangan pembebasan Palestina yang masih berlangsung, tetapi juga karena Sudan memiliki kedekatan sejarah dengan Indonesia.
Jika kita melihat kembali Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, saat itu Sudan belum merdeka dari penjajahan Inggris–Mesir. Namun keikutsertaan Sudan dalam konferensi tersebut menjadi momentum yang turut mempercepat kemerdekaannya pada tahun berikutnya, yaitu 1956.
Menilik sejarah tersebut, Sudan sejatinya merupakan simbol semangat pembebasan yang juga pernah kita perjuangkan. Namun setelah bertahun-tahun berlalu, negara ini kembali dihadang berbagai persoalan besar. Berdasarkan berbagai laporan, hampir tujuh dekade Sudan terperangkap dalam perang saudara yang berulang. Jika Sahabat MQ berselancar di media sosial, konflik di Sudan ini bukanlah yang pertama. Sejak 2023 dan bahkan beberapa tahun sebelumnya, pecah pertikaian antara militer reguler yang dipimpin Jenderal Abdul Fattah Al-Burhan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di bawah komando Muhammad Hamdan Dagalo.
Menurut penjelasan Yon Machmudi, Ph.D, konflik Sudan memiliki akar sejarah yang panjang. Padahal Sudan adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam—mulai dari emas, minyak, hingga wilayah yang subur. Namun sejarah kolonialisasi Barat meninggalkan luka panjang dan turut melatarbelakangi konflik yang kemudian memisahkan Sudan menjadi Sudan Utara dan Sudan Selatan.
Setelah perpisahan itu, Sudan Utara pun belum mencapai stabilitas politik. Pada 2011 terjadi kudeta terhadap Omar al-Bashir yang kemudian melahirkan pemerintahan transisi. Sayangnya, pemerintahan transisi tersebut tidak mendapat dukungan kuat dan justru memicu perpecahan di tubuh militer. Saat ini terdapat dua kekuatan besar yang saling berhadapan: pemerintahan transisi yang diakui PBB di bawah pimpinan Abdul Fattah Al-Burhan, dan pasukan RSF di bawah Muhammad Hamdan Dagalo. Di balik itu semua, kepentingan asing ikut memperkeruh situasi.
Hingga kini, konflik tersebut telah menewaskan hampir 150.000 orang, sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi.
Padahal Sudan memiliki potensi untuk menjadi negara besar di Afrika—selevel Nigeria dengan ekonomi kuat, atau Afrika Selatan yang stabil—karena kekayaan alamnya yang melimpah. Namun situasi Sudan justru menggambarkan apa yang sering disebut sebagai “curse of resources”, yaitu ironi ketika kekayaan alam justru memicu konflik dan ketidakstabilan.
Program : Sudut Pandang – Inspirasi Pagi
Narasumber : Yon Machmudi, Ph.D
Penyiar : Rizki Alfaris – Syifa Khoirun Nisa