Ketika Kita Mengira Rumitnya Hidup Berasal dari Masalah Eksternal
Hidup di era modern memberikan tekanan yang jauh lebih berat dibandingkan masa-masa sebelumnya. Tuntutan kerja meningkat, ekonomi tak stabil, dan dinamika keluarga semakin menantang. Banyak orang mengira kerumitan hidup disebabkan faktor luar semata: lingkungan kerja yang tidak sehat, kebutuhan hidup yang melonjak, atau hubungan sosial yang renggang. Padahal, dalam kajian Inspirasi Qur’an MQFM Bandung, Ustadz Suherman Ar-Razi mengingatkan bahwa akar masalah kehidupan seringkali bukan ada di luar, tetapi pada diri manusia yang menjauh dari petunjuk wahyu.
Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar dibaca atau didengar untuk ketenangan hati, tetapi sebagai manual hidup yang mengatur cara manusia mengambil keputusan, menilai sesuatu, dan menghadapi ujian. Tanpa petunjuk Al-Qur’an, manusia kehilangan kompas moral dan arah hidup, sehingga pilihan hidup menjadi kacau dan solusi terasa buntu. Inilah salah satu penyebab mengapa hidup semakin rumit.
Allah dengan tegas menyampaikan fungsi Al-Qur’an:
قُلْ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan yang rumit sering muncul bukan karena masalahnya besar, tetapi karena manusia berjalan tanpa petunjuk yang seharusnya membimbingnya.
Ketika Al-Qur’an Seharusnya Menjadi Pembeda, Bukan Sekadar Bacaan
Dalam QS. Ath-Thariq ayat 11–17, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah Furqan pembeda yang menegaskan batas antara hak dan batil. Namun manusia modern justru sering melupakan fungsi ini. Di tengah banjir opini, komentar media sosial, dan budaya ikut-ikutan, standar hidup berubah bukan lagi dari wahyu tetapi dari apa kata orang.
Ketika manusia menempatkan emosi, opini mayoritas, atau tren digital sebagai acuan kebenaran, maka hidup kehilangan kejelasan. Batas benar-salah menjadi kabur. Inilah yang menyebabkan arah hidup tidak stabil.
Allah berfirman:
إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ . وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ
“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar perkataan yang memisahkan (antara benar dan salah). Dan Al-Qur’an itu bukanlah senda gurau.”
(QS. Ath-Thariq: 13–14)
Manusia membutuhkan standar yang tetap. Namun ketika standar itu ditinggalkan, Al-Qur’an hanya menjadi bacaan, bukan pedoman. Akibatnya, hidup diatur oleh perasaan dan logika yang berubah-ubah.
Allah memperingatkan:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi, mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An’am: 116)
Setiap kali Al-Qur’an ditanggalkan sebagai pembeda, kerumitan hidup pun tumbuh dari keputusan-keputusan yang diambil tanpa arah.
Ketika Manusia Menghapus Garis yang Dibuat Allah
Ustadz Suherman menekankan bahwa salah satu fungsi terpenting Al-Qur’an adalah menetapkan batas. Batas inilah yang memisahkan antara hidup yang berkah dan hidup yang kacau. Al-Qur’an menetapkan mana yang halal dan mana yang haram; mana yang diperintahkan dan mana yang harus dijauhi; mana yang mendatangkan keberkahan dan mana yang membawa kerusakan.
Namun ketika batas ini dihapus, manusia menabrak aturan yang justru melindunginya.
Dalam urusan harta, misalnya, Allah menegaskan pentingnya keadilan, larangan riba, serta kewajiban zakat:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.”
(QS. Adz-Dzariyat: 19)
Ketika aturan ini diabaikan, muncul konflik finansial, perselisihan keluarga, hutang menumpuk, serta hilangnya keberkahan hidup.
Begitu pula dalam hubungan sosial. Al-Qur’an memberi batas jelas agar manusia menjaga kehormatan, pandangan, dan ucapan:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.”
(QS. An-Nur: 30)
Ketika batas ini dilanggar, masalah hubungan muncul: cemburu, fitnah, pertengkaran, hingga kerusakan rumah tangga.
Rasulullah ﷺ menegaskan:
“الحلال بيّن والحرام بيّن…”
“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika batas yang ditetapkan Allah dihapus, kerusakan pun sulit dihindari. Hidup menjadi rumit karena manusia sendiri yang meruntuhkan pagar penjaganya.
Mengapa Tanpa Al-Qur’an Hidup Menjadi Tidak Stabil?
Salah satu keistimewaan Al-Qur’an adalah ia tidak berubah oleh keadaan. Nilainya tetap, kokoh, dan konsisten sepanjang zaman. Ketika manusia berpijak pada Al-Qur’an, ia berpijak pada pondasi yang tidak pernah digoyang perubahan dunia.
Sebaliknya, jika manusia mengandalkan emosi, pendapat mayoritas, atau tren sebagai pedoman, hidupnya akan mudah terguncang. Emosi berubah, tren berubah, opini berubah dan keputusan manusia ikut berubah-ubah. Inilah akar ketidakstabilan hidup.
Allah menegaskan stabilitas itu:
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.”
(QS. Thaha: 123)
Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk Al-Qur’an adalah sumber kestabilan jiwa. Hidup tidak dijanjikan bebas dari ujian, tetapi dijamin tidak melenceng dan tidak hancur.
Hidup menjadi rumit bukan hanya karena berat, tetapi karena manusia berusaha menghadapinya dengan pedoman yang tidak stabil.
Mungkin Kita Tidak Kehilangan Arah Kita Hanya Kehilangan Pedoman
Jika hidup hari ini terasa semakin kacau, mungkin bukan karena masalah semakin banyak. Bisa jadi karena kita menjauh dari fungsi utama Al-Qur’an sebagai Furqan pembeda dan penuntun hidup yang jelas. Selama Al-Qur’an hanya dibaca tetapi tidak dijadikan kompas, hidup akan terus terasa berat dan penuh kerancuan.
Solusi yang ditawarkan wahyu sangat sederhana “kembalikan Al-Qur’an pada posisi utamanya sebagai panduan hidup”. Dengan menjadikannya acuan dalam setiap keputusan, hidup akan memiliki arah, batas, dan ketenangan yang selama ini kita cari.