Menyelisik Ketulusan Niat dalam Proses Berubah
Banyak orang yang telah mengubah penampilan lahiriahnya, mulai aktif mengikuti kajian, dan mengubah lingkaran pertemanannya, namun anehnya batin mereka masih sering merasa gersang dan hampa. Fenomena ini sering kali terjadi karena proses perubahan tersebut baru menyentuh kulit luar dan belum meresap hingga ke dalam fondasi niat yang paling dalam. Sahabat MQ, penting untuk merenungkan kembali apakah perubahan yang dilakukan murni karena ingin mencari rida Allah atau sekadar ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan baru.
Hijrah yang sejati membutuhkan revolusi batin yang total, di mana ego dan kesombongan diri perlahan-lahan dikikis habis hingga tidak tersisa. Ketika perubahan dilakukan demi tren atau pujian manusia, maka rasa lelah dan kekecewaanlah yang akan didapatkan saat pujian tersebut tidak kunjung datang. Ketulusan niat adalah bahan bakar utama yang akan menjaga konsistensi dan menghadirkan kemanisan iman di dalam dada.
Setiap amal perbuatan manusia, termasuk keputusan besar untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, nilai dan hasilnya sangat bergantung pada niat yang mendasarinya.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menghindari Jebakan Merasa Lebih Suci dari Orang Lain
Salah satu ujian terberat bagi seseorang yang baru saja mendalami agama adalah munculnya perasaan halus bahwa dirinya sudah lebih baik, lebih saleh, atau lebih suci dibandingkan orang lain yang belum berubah. Penyakit “ujub” dan sombong ini secara perlahan dapat menggerogoti seluruh pahala kebaikan dan menutup pintu hidayah yang lebih luas. Sahabat MQ, melihat orang lain yang belum berhijrah dengan pandangan kasih sayang dan doa, bukan dengan pandangan menghakimi atau merendahkan, adalah ciri akhlak yang mulia.
Ingatlah bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah yang bisa diberikan dan dicabut kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya yang Maha Adil. Tetap menjaga kerendahan hati dan selalu merasa diri masih penuh dengan kekurangan adalah benteng agar tidak terjatuh ke dalam kesombongan spiritual. Semakin tinggi ilmu dan pemahaman agama seseorang, seharusnya membuat dirinya menjadi semakin merunduk dan penuh dengan toleransi serta kelembutan.
Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang dengan sangat tegas para hamba-Nya untuk mengklaim keluhuran dan kesucian diri sendiri, karena hanya Dia yang paling mengetahui kadar ketakwaan yang sesungguhnya.
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
Memperbaiki Konsistensi Ibadah dari Hal yang Paling Sederhana
Kerap kali semangat yang menggebu-gebu di awal hijrah membuat seseorang ingin langsung melakukan semua ibadah sunah yang berat sekaligus dalam satu waktu. Akibat dari pemaksaan diri yang tidak bertahap ini adalah munculnya rasa jenuh yang luar biasa, sehingga akhirnya semua ibadah tersebut ditinggalkan begitu saja. Sahabat MQ, kunci dari keberhasilan hijrah yang langgeng adalah konsistensi (istiqamah) dalam melakukan amalan, meskipun amalan tersebut terlihat kecil dan sederhana.
Memperbaiki kualitas salat lima waktu tepat pada waktunya, konsisten membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari, atau rutin bersedekah subuh jauh lebih berbobot daripada amalan besar yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh cinta dan kontinuitas akan membentuk karakter baru yang kokoh di dalam jiwa. Dengan cara inilah, rasa hampa dan gelisah perlahan-lahan akan berganti dengan kedamaian batin yang menetap.
Amalan yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya bukanlah amalan yang megah dan sesaat, melainkan amalan yang rutin dikerjakan tanpa pernah terputus.
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (berkelanjutan) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).