Pentingnya Mengenal Allah Melalui Nama-Nama-Nya
Ketidaktenangan hidup sering kali bersumber dari ketidaktahuan kita tentang siapa Tuhan kita. Sahabat MQ, mengenal Allah (Ma’rifatullah) melalui Asmaul Husna akan mengubah cara kita memandang dunia secara total.
Misalnya, dengan mengenal nama Al-Bashir (Maha Melihat), Sahabat MQ akan merasa malu untuk bermaksiat meski sendirian. Allah berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujurat: 18).
Pemahaman yang dalam akan sifat-sifat Allah membuat Sahabat MQ merasa selalu diawasi sekaligus dilindungi. Inilah dasar dari keimanan yang kokoh yang tak mudah goyah oleh perubahan keadaan.
Zikir Sebagai Makanan Pokok Bagi Hati
Sama seperti tubuh yang butuh makan, hati pun butuh nutrisi berupa zikir. Sahabat MQ, jangan biarkan lisan dan hati kita kering dari menyebut nama Allah, karena hanya dengan zikir hati akan menemukan ketenteraman sejatinya.
Allah memberikan jaminan dalam Al-Qur’an:
أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Mulailah membiasakan zikir pagi dan petang secara konsisten. Sahabat MQ akan merasakan perbedaan yang signifikan; masalah yang tadinya tampak seperti gunung yang berat, perlahan akan terasa seringan kapas.
Ibadah Bukan Sekadar Rutinitas, Tapi Kebutuhan
Sering kali kita merasa ibadah itu beban, padahal ibadah adalah hadiah dari Allah untuk kita. Sahabat MQ, salat dan tilawah adalah sarana komunikasi langsung dengan Sang Khalik untuk “mengisi ulang” energi jiwa yang mulai redup.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai zikir, beliau bersabda:
أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Artinya: “Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, dan Allahu Akbar.” (HR. Muslim).
Ketika Sahabat MQ menjadikan ibadah sebagai kebutuhan, maka setiap gerakan salat akan dilakukan dengan khusyuk. Ketenangan yang didapat dari ibadah akan terbawa ke dalam aktivitas sehari-hari, membuat kita lebih bijak dalam bertindak. Sumber kebaikan dari Allah Ta’ala ada dalam hati. Sebab itu, bila hati baik, niscaya anggota tubuh yang lain pasti menjadi baik dan mampu memproduksi kebaikan-kebaikan yang lain. Hanya saja, hati tidak akan baik kecuali bila mengenal Allah Ta’ala, mencintai-Nya, beribadah dan kembali kepadaNya, dan merasa tenang dan tenteram ketika mengingat-Nya. Inilah karakter hati yang hidup dan tidak mati, hati yang yang sehat dan tidak sakit.
Barang siapa kehilangan hati yang hidup dan sehat, niscaya dunia tidak bisa menggantikannya, meskipun ia mampu meraihnya. Bila segala sesuatu di dunia ini hilang, maka akan ada gantinya kecuali mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya, bila ia hilang maka tidak ada gantinya.
Bagaimana bisa makhluk yang fakir akan menggantikan Allah Yang Mahakaya?
Bagaimana bisa makhluk yang lemah akan menggantikan Allah Yang Mahakuasa?
Bagaimana makhluk yang pasti mati menggantikan Allah Yang Mahakekal?
Oleh karenanya, orang yang tidak mengenal Allah Ta’ala akan meninggalkan dunia dalam keadaan sangat merugi. Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Bagaimana bisa waktu berlalu dan umur habis, sementara hati terhalang dari mengenal Allah Ta’ala?! Dia keluar dari dunia seperti saat dia memasukinya, tidak merasakan hal terlezat di dalamnya, bahkan dia hidup layaknya binatang. Dia berpindah darinya (menuju akhirat) dalam keadaan merugi.”