Setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, yaitu kesucian dan kecenderungan alami untuk mengenal dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Fitrah ini merupakan anugerah besar yang harus dijaga agar tidak ternodai oleh hawa nafsu, lingkungan, maupun godaan dunia. Al-Qur’an hadir sebagai pedoman utama yang menjadi cahaya dan penuntun manusia agar tetap berada dalam jalur fitrahnya.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ٣٠
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Ayat ini menegaskan bahwa agama Islam adalah jalan yang sesuai dengan fitrah manusia, sehingga menjaga fitrah berarti menjaga diri agar tetap taat pada Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Fitrah manusia memiliki sifat dasar yang mencintai kebaikan, kejujuran, dan kebenaran. Namun, hawa nafsu dan godaan dunia kerap kali menodai kesucian tersebut sehingga menjauhkan manusia dari jalan Allah. Oleh karena itu, menjaga fitrah menjadi tanggung jawab setiap hamba, agar tetap berada pada jalan lurus yang telah Allah gariskan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).” Maka orang tua, lingkungan, dan pengaruh sekitar yang menentukan apakah ia tetap berada dalam fitrah itu atau menyimpang darinya.
Al-Qur’an hadir sebagai pedoman utama dalam menjaga kesucian fitrah tersebut. Di dalamnya terdapat sumber kebahagiaan, keberkahan, dan ketenangan yang menjadi bekal hidup manusia. Menjaga fitrah dengan Al-Qur’an berarti menghidupkan nilai-nilai ilahi dalam setiap aspek kehidupan: pribadi, keluarga, sosial, hingga ekonomi. Orang tua memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak agar dekat dengan Al-Qur’an, mengajarkan mereka mencintai kebenaran, menegakkan kejujuran, serta menjauhi larangan Allah.
Selain itu, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya jika berpegang teguh pada keduanya: Al-Qur’an dan Sunnahku.” Hadis ini menegaskan bahwa kunci untuk menjaga fitrah tetap terjaga adalah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, serta menjadikan sunnah Rasulullah ﷺ sebagai pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, fitrah manusia bisa ternodai jika tidak dijaga. Lingkungan yang buruk, hawa nafsu yang tidak terkendali, serta tipu daya dunia dapat mengaburkan hati dan menjauhkan dari jalan Allah. Karena itu, diperlukan kesungguhan dalam mengendalikan diri, memperbanyak ibadah, serta memohon pertolongan Allah agar tetap istiqamah. Allah berjanji dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Menjaga fitrah adalah menjaga kesucian jiwa yang Allah titipkan kepada kita sejak lahir. Jalan itu hanya akan kokoh jika dilandasi oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan kembali kepada pedoman Allah, manusia akan mampu mengendalikan hawa nafsu, mencintai kebaikan, menegakkan kebenaran, serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Program: Inspirasi Qur’an | Menjaga Fitrah Dengan Al-Qur’an
Narasumber: KH. Hery Saparjan Mursi, M,Ag,. Alhafizh