Tahap Pertama, Menemukan Niat yang Jelas
Sebelum kata-kata meluncur dari mulut, Sahabat MQ harus melewati tahap penyaringan niat di dalam hati. Tanyakan pada diri sendiri: “Kenapa saya ingin mengatakan ini?”. Jika niatnya hanya ingin dipuji, ingin menjatuhkan orang lain, atau sekadar asal bunyi, maka lampu merah harus segera menyala sebagai tanda untuk berhenti.
Niat yang lurus karena Allah akan membimbing kita pada kata-kata yang bijak dan terkendali. Sahabat MQ perlu melatih kejujuran batin agar tidak mudah tertipu oleh keinginan nafsu yang ingin selalu tampil. Setiap pembicaraan yang diawali dengan niat baik insyaallah akan berujung pada kebaikan pula bagi semua pihak.
Ingatlah hadis tentang niat yang sangat masyhur:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya” (HR. Bukhari).
Tahap Kedua, Memastikan Isi yang Benar dan Valid
Setelah niatnya benar, tahap berikutnya bagi Sahabat MQ adalah memastikan apakah isi atau informasi yang akan disampaikan itu benar. Jangan sampai kita menjadi corong bagi berita bohong atau cerita yang masih simpang siur kebenarannya. Aa Gym menekankan bahwa kejujuran informasi adalah harga mati bagi seorang mukmin sejati.
Bicara berdasarkan ilmu jauh lebih mulia daripada bicara berdasarkan asumsi atau perasaan semata. Jika Sahabat MQ belum yakin 100% tentang sebuah informasi, lebih baik katakan “saya tidak tahu” atau memilih untuk diam. Sikap hati-hati ini akan menyelamatkan kita dari dosa fitnah dan memberikan ketenangan bagi orang lain yang mendengarnya.
Allah SWT memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka yang berujung pada kebohongan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12).
Tahap Ketiga, Memperhitungkan Dampak yang Akan Timbul
Tahap terakhir yang tidak kalah penting adalah mempertimbangkan dampak dari ucapan tersebut terhadap perasaan dan situasi orang lain. Sahabat MQ harus berpikir, apakah setelah kalimat ini diucapkan orang akan menjadi lebih semangat, atau justru tersakiti? Pertimbangan dampak ini adalah wujud dari kasih sayang kita terhadap sesama saudara muslim.
Terkadang sebuah kebenaran jika disampaikan dengan cara yang salah bisa menimbulkan luka yang mendalam. Aa Gym mengajarkan agar kita selalu menggunakan bahasa yang santun dan waktu yang tepat saat berbicara. Dengan memperhitungkan dampak, Sahabat MQ sedang menjalankan fungsi lisan sebagai penyebar kedamaian di muka bumi.
Rasulullah SAW bersabda mengenai muslim yang terbaik:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Bukhari). Mari kita wujudkan keamanan tersebut mulai hari ini, Sahabat MQ.