Kita sering melihat gelombang undangan pernikahan tepat setelah hari raya Idulfitri berakhir. Fenomena ini seringkali dianggap hanya sebagai momen mumpung keluarga sedang berkumpul. Namun, bagi seorang muslim, keputusan ini memiliki dimensi ibadah yang jauh lebih tinggi daripada sekadar efisiensi waktu atau biaya transportasi keluarga.
Tujuan Mulia Rasulullah dalam Menentukan Waktu Pernikahan
Ustadz Zulkarnain menekankan bahwa tindakan Rasulullah menikah di bulan Syawal mengandung misi akidah yang sangat kuat. Beliau ingin menunjukkan kepada umatnya bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh ramalan bintang atau mitos bulan tertentu, melainkan oleh ketakwaan pasangan tersebut. Dengan mengikuti sunnah ini, kita secara tidak langsung memperkuat tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Persiapan Matang Menuju Pelaminan di Bulan Kemenangan
Menikah di bulan Syawal menuntut persiapan mental yang selaras dengan nilai-nilai Ramadan yang baru saja dilewati. Kesabaran, pengendalian diri, dan peningkatan ibadah yang dilatih selama sebulan penuh menjadi modal utama dalam menghadapi dinamika rumah tangga. Inilah mengapa Syawal disebut sebagai waktu yang sangat tepat untuk mempraktikkan hasil tarbiyah Ramadan dalam ikatan suci pernikahan.
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).
• Live Streaming
102.7 MQFM Bandung
Assalamu'alaykum Sahabat MQ, silahkan dapat menyampaikan pertanyaan disini melalui WhatsApp MQFM
Iklan yang tampil di website ini merupakan layanan pihak ketiga melalui Google AdSense yang dapat disesuaikan dengan preferensi masing-masing pengguna. MQFM berupaya menghadirkan konten yang sejalan dengan nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatan, namun tidak memiliki kendali langsung atas materi iklan yang ditampilkan.