petanii

Petani Siap Siaga Musim Hujan, Ketahanan Pangan Dipertaruhkan?

MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Sahabat MQ, Kita ketahui bersama bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan penting bagi para petani terkait penyesuaian musim tanam. Hal ini disampaikan setelah munculnya proyeksi terbaru musim hujan tahun 2025–2026, dimana kondisi iklim di Indonesia hingga saat ini belum kembali sepenuhnya normal.

BMKG meminta petani menyesuaikan pola tanamnya dengan kondisi musim hujan terbaru. Sebab, curah hujan diprediksi berlangsung lebih lama hingga April bahkan bulan Mei, serta musim hujan periode 2025–2026 diperkirakan datang lebih awal dari biasanya.

Informasi ini disampaikan oleh BMKG dan Bayu Dwi Apri Nugroho yang menekankan pentingnya dukungan pemerintah melalui peran penyuluh pertanian agar informasi iklim sampai ke para petani. Para petani menjadi pihak paling terdampak karena merekalah ujung tombak ketahanan pangan nasional.

Perubahan pola musim ini diperkirakan terjadi pada musim hujan tahun 2025–2026, dengan intensitas hujan yang lebih cepat masuk di sekitar 42% zona musim dibanding rata-rata klimatologis selama periode 1991–2020.

Fenomena ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi berbeda-beda. Ada daerah dengan intensitas hujan tinggi yang berpotensi banjir dan menggenangi lahan pertanian, sementara di daerah lain justru menghadapi tantangan ketersediaan air. Sebagai contoh, di Kabupaten Kompang, Nusa Tenggara Timur (NTT), petani sudah mulai menggunakan alat pengatur air untuk menyesuaikan kondisi cuaca.

Mitigasi ini penting karena ancaman hidrometeorologi dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari gagal panen, serangan hama, kerusakan lahan, hingga terganggunya distribusi pangan. Jika tidak diantisipasi, ketahanan pangan nasional bisa terancam.

BMKG mengimbau agar pemerintah, penyuluh, dan para petani berkolaborasi. Pemerintah perlu memberikan informasi iklim yang lebih detail dan spesifik sesuai wilayah. Para petani harus menyesuaikan pola tanam sesuai prediksi musim hujan. Selain itu, penggunaan teknologi pengelolaan air, sebagaimana dilakukan di NTT, dapat menjadi solusi dalam menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu.

Program : Sudut Pandang – Inspirasi Pagi
Narasumber : Bayu Dwi Apri Nugroho , S.TP, M.Agr, Ph.D
Penyiar : Muhammad Huda – Syifa Khoirun Nisa