Keagungan Istimewa yang Menggetarkan Jiwa
Bulan Muharram menyimpan pesona spiritual yang luar biasa dan berbeda dari bulan-bulan lainnya dalam kalender Hijriah. Keistimewaan yang mendalam ini diulas tuntas dalam program Inspirasi Qur’an – Tadabbur Al Qur’an di Radio 102.7 MQFM Bandung, yang disampaikan oleh Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag., seorang Instruktur Bahasa Arab Quamus Arabic, untuk mengupas mengapa bulan ini mendapat gelar sakral Syahrullah atau Bulannya Allah. Ketika sebuah makhluk atau waktu disandarkan langsung kepada nama agung Allah SWT, hal itu menandakan adanya tingkat kemuliaan yang sangat tinggi serta perhatian khusus yang wajib direnungkan oleh setiap mukmin.
Menyelami makna mendalam dari julukan ini, Sahabat MQ akan menemukan bahwa penyandaran tersebut adalah bentuk penghormatan tertinggi (tasyrif). Sebagaimana Ka’bah disebut Baitullah (Rumah Allah), maka Muharram yang disebut sebagai Syahrullah menandakan bahwa bulan ini memiliki kesucian yang langsung dijaga oleh-Nya. Tidak heran jika atmosfer spiritual di bulan ini terasa begitu pekat dan menuntut kesiapan batin yang matang untuk menyerap segala kebaikan di dalamnya.
Keagungan ini secara tegas disebutkan dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda mengenai kedudukan bulan ini di antara waktu-waktu lainnya yang diciptakan oleh Allah:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.”
Keutamaan Mutlak yang Tidak Dimiliki Bulan Lain
Keunikan luar biasa dari Syahrullah terletak pada sifatnya yang menjadi wadah bagi berbagai peristiwa bersejarah dan ruang ampunan yang terbuka lebar. Berbeda dengan bulan biasa, setiap detik di bulan Muharram seolah memancarkan energi kesucian yang mengajak jiwa-jiwa yang lelah untuk kembali bersujud dan bersuci. Allah SWT sengaja memilih bulan ini sebagai momentum emas bagi hamba-hamba-Nya yang ingin membersihkan diri dari noda dosa masa lalu.
Melalui pemahaman yang mendalam mengenai esensi Syahrullah, Sahabat MQ diajak untuk merombak cara pandang dalam mengisi hari-hari di bulan ini. Kemuliaan yang melekat padanya menuntut setiap individu untuk menepis segala bentuk kelalaian dan kemaksiatan yang dapat mengotori kesucian bulan Allah. Menghormati bulan ini berarti menghormati ketetapan Allah SWT yang telah menyaring waktu-waktu tertentu menjadi media peningkatan takwa.
Ketetapan mengenai bulan-bulan yang dimuliakan ini juga berakar kuat pada firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an Surat At-Tawbah ayat 36, yang menegaskan bilangan bulan di sisi Allah:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.”
Manifestasi Penghormatan terhadap Bulan Milik-Nya
Mengakui Muharram sebagai Syahrullah menuntut tindakan nyata yang mencerminkan ketundukan dan rasa hormat yang mendalam kepada sang Pencipta. Langkah awal yang bisa ditempuh adalah dengan memperbanyak zikir, menghadiri majelis ilmu, serta menata kembali niat-niat kebaikan yang sempat memudar pada bulan-bulan sebelumnya. Momentum ini menjadi waktu yang paling tepat untuk membangun kedekatan emosional dan spiritual yang lebih intim dengan Allah SWT.
Setiap hamba yang berhasil menangkap sinyal kesucian dari Syahrullah ini dipastikan akan merasakan kedamaian yang berbeda dalam setiap ibadah yang ditegakkan. Sahabat MQ dapat menjadikan bulan ini sebagai batu loncatan untuk konsistensi ibadah (istiqamah) yang akan dijaga sepanjang tahun ke depan. Penghormatan yang tulus pada akhirnya akan membuahkan cinta dan keridaan dari Pemilik waktu itu sendiri.
Oleh karena itu, kesadaran penuh akan kehadiran bulan Allah ini menjadi kunci utama untuk membuka pintu-pintu keberkahan yang masih terkunci. Menjaga lisan, hati, dan perbuatan dari hal-hal yang tidak bermanfaat menjadi bentuk nyata dari pengagungan syiar-syiar agama. Mari menjadikan setiap embusan napas di bulan Muharram ini sebagai bukti nyata pengabdian tertinggi kepada-Nya.