anak

Rasa malas sering kali menjadi tembok besar yang menghalangi kita untuk mendekat kepada Al-Qur’an. Banyak orang menunggu datangnya motivasi yang meluap atau kondisi hati yang tenang baru kemudian mau membuka mushaf. Padahal, dalam perjalanan spiritual, perasaan cinta dan ketenangan sering kali tidak datang secara cuma-cuma, melainkan harus dijemput melalui perjuangan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsu yang cenderung pada kenyamanan duniawi.

Hawa nafsu manusia pada dasarnya memiliki sifat Amaratun bis-su’, yaitu kecenderungan untuk mengajak pada keburukan atau minimal kelalaian. Tanpa adanya upaya untuk memaksa diri, kita akan selalu kalah oleh bisikan-bisikan yang membuat kita lebih memilih menatap layar gawai daripada menatap lembaran wahyu. Inilah mengapa dalam Islam dikenal konsep Mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk tetap konsisten dalam ketaatan meskipun jiwa sedang merasa enggan.

Strategi ini bukan sekadar soal kemauan, melainkan soal kedisiplinan ruhaniah. Kita perlu menyadari bahwa setiap kebaikan yang besar selalu diawali dengan langkah-langkah yang terasa berat di awal. Artikel ini akan membahas bagaimana kita dapat menerapkan teknik mujahadah dan tasabur agar interaksi kita dengan Al-Qur’an tidak lagi bersifat musiman, melainkan menjadi rutinitas yang mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep Mujahadah: Memaksa Diri Demi Cahaya

Mujahadah adalah kunci pembuka jalan menuju hidayah yang lebih luas. Dalam konteks berinteraksi dengan Al-Qur’an, mujahadah berarti kesediaan kita untuk “memaksa” diri tetap membaca atau menghafal saat rasa kantuk dan bosan melanda. Allah SWT memberikan jaminan bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya, maka Allah sendiri yang akan membimbing dan menunjukkan jalan-jalan kemudahan bagi hamba tersebut.

Janji ini termaktub dengan sangat indah dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 69:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعُ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Dengan memahami ayat ini, kita sadar bahwa rasa berat di awal adalah “ujian masuk” untuk mendapatkan kelezatan iman. Allah ingin melihat sejauh mana keseriusan kita dalam menghargai kalam-Nya. Ketika kita berhasil melewati fase “pemaksaan” ini dengan penuh keikhlasan, maka Allah akan mengubah rasa terpaksa tersebut menjadi rasa cinta yang tulus, sehingga ibadah yang tadinya terasa beban berubah menjadi sumber kekuatan.

Teknik Tasabur: Menyabar-nyabarkan Diri dalam Ketaatan

Selain mujahadah, kita juga memerlukan Tasabur, yaitu upaya aktif untuk menciptakan kesabaran dalam diri. Berbeda dengan sabar yang sifatnya pasif, tasabur adalah proses melatih mental agar mampu bertahan dalam durasi yang lebih lama saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Jika hari ini kita hanya sanggup bertahan membaca selama lima menit, maka esok hari kita mencoba “menyabar-nyabarkan diri” untuk bertahan hingga tujuh atau sepuluh menit.

Proses melatih kesabaran ini sangat dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kesabaran adalah pemberian terbaik yang bisa diterima oleh seorang hamba. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, beliau bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Barangsiapa yang menyabar-nyabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya penyabar. Dan tidak ada pemberian seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

Dalam prakteknya, tasabur berarti kita tidak menyerah saat lidah terasa kaku atau saat pikiran mulai melantur ketika tadabur. Kita terus bertahan di atas sajadah atau di depan mushaf, mencoba fokus kembali, dan memohon kekuatan kepada Allah. Latihan yang konsisten ini secara perlahan akan memperluas kapasitas sabar di dalam hati, sehingga interaksi dengan Al-Qur’an yang lama tidak lagi dirasakan sebagai siksaan, melainkan sebagai sebuah kenikmatan.

Pahala Bagi Mereka yang Terbata-bata

Sering kali, rasa malas juga dipicu oleh rasa rendah diri karena merasa bacaan Al-Qur’an kita belum lancar atau belum bagus tajwidnya. Setan menggunakan celah ini untuk membuat kita menjauh dengan bisikan bahwa “lebih baik tidak membaca daripada salah”. Padahal, Islam memberikan apresiasi yang luar biasa tinggi bagi mereka yang tetap berjuang membaca Al-Qur’an meskipun harus terbata-bata dan mengalami kesulitan.

Rasulullah SAW memberikan motivasi besar bagi para pejuang Al-Qur’an melalui hadis yang sangat masyhur:

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata serta merasa kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim)

Dua pahala tersebut adalah pahala membaca dan pahala atas kesusahpayahannya (mujahadah). Jadi, tidak ada alasan untuk berhenti hanya karena merasa tidak mampu. Kesulitan yang kita rasakan justru merupakan pundi-pundi pahala tambahan di sisi Allah. Mari kita buang rasa malu yang tidak pada tempatnya, dan teruslah melangkah maju karena setiap huruf yang kita perjuangkan adalah saksi pembela kita di hari kiamat kelak.