Hubungan Erat Antara Bersyukur Kepada Manusia dan Kepada Allah

Sahabat MQ, dalam kehidupan sosial bermasyarakat, sering kali seseorang melupakan peran penting dari kebaikan-kebaikan kecil yang diberikan oleh sesama manusia. Rasa gengsi atau kesombongan terselubung terkadang membuat lisan terasa berat untuk sekadar mengucapkan kata terima kasih atas bantuan yang telah diterima. Padahal, dalam pandangan syariat Islam, kemampuan bersyukur kepada manusia merupakan indikator utama dari kualitas kesyukuran seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jiwa yang tidak terlatih untuk menghargai ketulusan sesama makhluk akan cenderung mengabaikan nikmat-nikmat besar yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta. Mengembangkan budaya saling menghargai dan berterima kasih akan mengikis sifat egois yang merusak tatanan persaudaraan. Oleh karena itu, mulailah membiasakan diri untuk mengapresiasi setiap kebaikan orang lain dengan tulus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang pandai bersyukur:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7).

Hakikat Persaudaraan Muslim Sebagai Satu Bangunan yang Kokoh

Hubungan persaudaraan di antara sesama orang beriman sejatinya diibaratkan laksana sebuah bangunan megah yang saling menopang satu sama lain. Sahabat MQ, kekuatan sebuah dinding tidak hanya bertumpu pada semen, melainkan pada jalinan erat di antara batu bata yang menyusunnya. Ketika salah satu elemen merasakan sakit atau kesulitan, maka elemen lainnya akan ikut tergerak untuk memberikan bantuan serta pertolongan dengan penuh keikhlasan.

Aktivitas saling menolong dan meringankan beban sesama muslim merupakan jalan pintas untuk mengundang turunnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam urusan pribadi kita. Melalui kontribusi dana sedekah atau bantuan tenaga sekecil apa pun, sebuah kebaikan besar dapat terwujud demi kemaslahatan umat. Mari terus menguatkan tali persaudaraan ini dengan tindakan-tindakan nyata yang bermanfaat.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda mengenai perumpamaan persaudaraan kaum mukmin:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari).

Sedekah Sebagai Wujud Nyata Rasa Syukur dan Kemanusiaan

Sahabat MQ, menyisihkan sebagian rezeki yang dimiliki untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, seperti program wakaf Al-Qur’an Braille atau pembangunan masjid, adalah bentuk konkret dari rasa syukur yang hidup. Pengorbanan materi yang dilakukan dengan niat ikhlas lillahi taala tidak akan pernah mengurangi nilai kekayaan seseorang, melainkan justru akan melipatgandakannya di kemudian hari. Kebiasaan berbagi ini juga berfungsi sebagai pembersih jiwa dari penyakit cinta dunia (hubbud dunya) yang berlebihan.

Setiap kontribusi kecil yang diberikan secara konsisten dapat menjadi penyelamat batin di kala hidup sedang didera berbagai ujian berat. Jangan pernah meremehkan nilai sebuah kebaikan, sebab di balik senyuman orang yang terbantu, terdapat doa-doa tulus yang mampu menembus lapis-lapis langit. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur dan gemar menebar manfaat.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menegaskan kaitan erat bersyukur kepada sesama manusia:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih (bersyukur) kepada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).