Menjaga Konsistensi Ibadah Layaknya Lari Sprint
Banyak umat Muslim yang mengawali Ramadhan dengan semangat berapi-api, namun perlahan redup ketika memasuki pertengahan bulan. Fenomena “masjid yang semakin maju shafnya” menjadi bukti nyata tantangan dalam menjaga konsistensi. KH. Hery Saparjan menekankan bahwa ibadah di bulan Ramadhan seharusnya diibaratkan seperti lari sprint, di mana kecepatan dan kesungguhan justru harus memuncak menjelang garis finis.
Strategi utama dalam mengkhatamkan Al-Qur’an adalah dengan membagi porsi bacaan secara terukur sejak hari pertama. Jangan membiarkan gangguan duniawi, seperti belanja lebaran atau persiapan mudik, menggerus waktu utama untuk berinteraksi dengan wahyu. Ramadhan adalah “pasar besar” pahala di mana setiap detik yang terlewat tanpa zikir dan tilawah adalah sebuah kerugian yang nyata.
Rasulullah SAW memberikan teladan dalam meningkatkan ibadah di akhir bulan, sebagaimana hadis dari Aisyah RA:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
“Rasulullah SAW apabila masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Memahami dan Mengamalkan sebagai Ibadah Utama
Ibadah utama di bulan Ramadhan tidak terbatas pada menahan lapar dan dahaga, melainkan membaca, memahami, serta mengamalkan isi Al-Qur’an. Membaca dengan tartil dan merenungi maknanya jauh lebih berkualitas daripada sekadar mengejar kuantitas tanpa bekas di hati. Setiap ayat yang dibaca diharapkan mampu memberikan pengaruh positif terhadap perubahan sikap dan pola pikir sang pembaca.
Target khatam berkali-kali sangat mulia, namun harus dibarengi dengan komitmen untuk melakukan perubahan nyata. Misalnya, jika kita membaca ayat tentang larangan ghibah, maka seketika itu pula kita harus berhenti membicarakan keburukan orang lain. Inilah yang disebut dengan interaksi yang hidup bersama Al-Qur’an, di mana firman Allah menjadi pemandu langsung dalam bertindak.
Allah SWT berfirman dalam surah Shad ayat 29:
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Wirid Harian
Penting bagi setiap Muslim untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai wirdun yaumiyyun atau kebutuhan harian yang tidak bisa ditinggalkan. Keistikamahan dalam membaca Al-Qur’an akan menciptakan perlindungan batin dari berbagai godaan maksiat. Jika Al-Qur’an sudah menjadi kebutuhan, maka meninggalkan satu hari tanpa tilawah akan terasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup.
Mari manfaatkan momentum Ramadhan ini untuk membangun kebiasaan baru yang positif. Gunakan aplikasi pengingat, ikuti komunitas tadarus, atau buatlah jadwal khusus setelah shalat fardu agar target khatam dapat tercapai secara harmonis. Dengan niat yang ikhlas karena Allah, setiap huruf yang kita baca akan menjadi syafaat dan pelindung di hari akhir kelak.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim).