Menempatkan Adab di Atas Segalanya
Sahabat MQ, sering kali kita melihat orang yang sangat cerdas namun kehilangan arah dalam hidupnya. Hal ini biasanya terjadi karena mereka melupakan satu hal fundamental dalam menuntut ilmu, yaitu adab. Dalam kajian Ta’lim Muta’allim, Ustadz Olis dalam dalam Inspirasi Malam Kajian Akhlak Radio MQFM Bandung menekankan bahwa adab adalah wadah bagi ilmu; jika wadahnya retak atau kotor, maka ilmu yang dituangkan ke dalamnya akan tumpah atau terkontaminasi.
Menghormati guru dan menghargai proses belajar adalah bentuk adab yang paling dasar. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa para ulama besar terdahulu menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mempelajari adab sebelum mereka menyentuh kitab-kitab hadis atau fikih yang tebal. Tanpa adab, ilmu yang dimiliki justru berpotensi memunculkan sifat sombong yang merusak hati.
Hal ini dipertegas dalam sebuah hadis yang mengingatkan pentingnya akhlak:
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Rahasia Memuliakan Buku dan Fasilitas Belajar
Bukan hanya kepada manusia, adab dalam menuntut ilmu juga mencakup cara Sahabat MQ memperlakukan sarana belajar. Ustadz Olis dalam dalam Inspirasi Malam Kajian Akhlak Radio MQFM Bandung menceritakan bagaimana para penuntut ilmu di masa lalu sangat memuliakan kitab-kitab mereka, tidak meletakkannya di sembarang tempat, dan menjaganya dari debu. Memuliakan buku adalah simbol bahwa Sahabat MQ benar-benar menghargai warisan para nabi.
Kebiasaan kecil seperti tidak melangkahi buku atau selalu dalam keadaan suci saat menyentuh kitab ilmu memiliki dampak spiritual yang besar. Sahabat MQ mungkin merasa ini hal sepele, namun di sinilah letak perbedaan antara sekadar membaca dan benar-benar meresapi ilmu. Keberkahan sering kali turun melalui celah-celah kecil penghormatan yang kita berikan pada simbol-simbol ilmu.
Allah SWT berfirman mengenai pengagungan terhadap syiar-syiar agama-Nya:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).
Menjaga Lisan dari Perdebatan yang Sia-sia
Ilmu yang bermanfaat seharusnya membuat Sahabat MQ semakin tenang dan bijak, bukan malah gemar berdebat untuk menjatuhkan orang lain. Dalam kajian tersebut, diingatkan bahwa debat kusir hanya akan mengeraskan hati dan menghilangkan cahaya ilmu dari wajah seseorang. Sahabat MQ diajak untuk menggunakan ilmu sebagai sarana memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.
Ketulusan nasihat dari guru sering kali berupa larangan untuk merasa paling benar. Dengan menjaga lisan, Sahabat MQ memberikan ruang bagi hikmah untuk tumbuh di dalam pikiran. Fokuslah pada pengamalan ilmu karena sejatinya musuh terbesar bagi seorang penuntut ilmu bukanlah ketidaktahuan, melainkan keangkuhan atas sedikit pengetahuan yang baru saja didapatkan.
Rasulullah SAW memberikan jaminan bagi mereka yang menghindari perdebatan:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Artinya: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud).