berdoa

Manusia sering kali terjebak dalam ilusi kekuatan diri saat semua urusan duniawi berjalan lancar dan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Padahal, selembar daun pun tidak akan jatuh dari pohonnya tanpa ada izin dan kehendak mutlak dari Allah Swt. Di sinilah esensi dari kalimat wa iyyaka nasta’in hadir sebagai pengingat abadi bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan fakir, yang senantiasa membutuhkan bantuan setiap saat, sebagaimana dikupas tuntas oleh Ustadz Yasir Amarullah Mubarok, S.P. dalam program Inspirasi Qur’an – Tafsir Qur’an.

Memohon pertolongan kepada Allah bukan hanya dilakukan pada saat-saat genting atau ketika ditimpa musibah besar yang tidak ada jalan keluarnya. Bahkan, untuk urusan sekecil memperbaiki tali sandal yang putus atau mencicipi garam dalam masakan, seorang hamba dianjurkan untuk melibatkan Allah dalam hatinya. Sahabat MQ hendaknya memahami bahwa membiasakan diri meminta tolong dalam segala urusan adalah bentuk pengakuan tulus atas kemahakuasaan Tuhan.

Tafsir Jalalain menguraikan bahwa penggabungan antara ibadah dan permohonan pertolongan dalam satu ayat menunjukkan hubungan sebab-akibat yang sangat erat. Ibadah tidak akan dapat terlaksana dengan sempurna tanpa adanya taufik dan pertolongan yang dikaruniakan oleh Allah Swt. Oleh karena itu, kesadaran untuk memohon pertolongan harus selalu mengiringi setiap azam dan usaha fisik yang sedang diikhtiarkan, sebagaimana firman Allah dalam surah Ghafir ayat 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.”

Ketergantungan Mutlak Makhluk Terhadap Sang Pencipta

Mengapa orang yang enggan atau malas berdoa dikategorikan sebagai orang yang sombong di hadapan Allah Swt.? Jawabannya terletak pada kondisi psikologis dan spiritualitas internal seseorang yang merasa bahwa seluruh keberhasilan yang diraihnya adalah murni hasil kerja kerasnya sendiri. Sikap merasa cukup dengan kemampuan diri (istaghna) merupakan bibit utama dari pembangkangan spiritual yang sangat dibenci dalam ajaran Islam.

Sahabat MQ perlu waspada terhadap bisikan-bisikan halus setan yang membisikkan bahwa doa tidak lagi diperlukan ketika usaha atau ikhtiar lahiriah sudah maksimal. Pandangan keliru ini secara perlahan menyingkirkan peran Allah dalam roda kehidupan manusia sehari-hari. Padahal, mengabaikan doa berarti memutuskan tali hubungan vertikal yang menjadi sumber energi terbesar bagi ketenangan batin seorang mukmin.

Dalam kajian Tafsir Jalalain ini, ditekankan bahwa doa adalah inti dari ibadah itu sendiri. Menolak untuk berdoa berarti menolak untuk mengakui status diri sebagai hamba yang membutuhkan perlindungan. Konsekuensi dari kesombongan jenis ini tidak hanya berupa kegelisahan hidup di dunia, melainkan juga ancaman kehinaan yang nyata di akhirat kelak.

Anatomi Kesombongan Jiwa yang Enggan Berdoa

Berdoa bukan sekadar melafalkan deretan kalimat bahasa Arab tanpa pemahaman arti dan tanpa kehadiran hati yang khusyuk. Ada seni dan etika tertentu yang harus dipenuhi agar untaian permohonan yang dipanjatkan mampu menembus langit dan dikabulkan oleh Allah Swt. Memulai doa dengan memuji nama Allah yang mulia serta membaca salawat kepada Rasulullah Saw. merupakan salah satu kunci utamanya.

Selain itu, keyakinan yang mantap bahwa doa pasti akan dikabulkan juga memegang peranan yang sangat krusial dalam terkabulnya sebuah permohonan. Sahabat MQ disarankan untuk memilih waktu-waktu mustajab, seperti sepertiga malam terakhir, di antara azan dan iqamah, serta saat sujud terakhir dalam salat. Kehadiran rasa butuh yang teramat sangat (iftiqar) di dalam kalbu saat meminta akan menarik rahmat Allah dengan cepat.

Ketika seseorang telah mengerahkan segala ikhtiar terbaiknya lalu menyerahkan segala hasilnya melalui untaian doa yang tulus, maka ia telah mencapai maqam tawakal yang sejati. Jiwa yang bertawakal tidak akan pernah stres atau depresi meskipun hasil akhir yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan pribadinya. Ia meyakini sepenuhnya bahwa pilihan Allah adalah skenario terbaik yang membawa maslahat dunia dan akhirat, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw.:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

yang artinya, “Doa itu adalah inti dari ibadah.”

Etika dan Seni Bermunajat yang Menggetarkan Arsy

Ketabahan hati dalam menunggu terkabulnya doa juga menjadi batu ujian terseni bagi kualitas keimanan seorang hamba. Sering kali manusia merasa jenuh dan berhenti berdoa hanya karena merasa permintaannya tidak kunjung diwujudkan secara instan oleh Allah Swt. Padahal, Allah Maha Mengetahui kapan waktu paling tepat dan bentuk terbaik dari jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan.

Sahabat MQ harus menanamkan prasangka baik (husnuzan) bahwa setiap doa yang tulus tidak akan pernah sia-sia di sisi-Nya. Doa tersebut bisa jadi dikabulkan langsung di dunia, disimpan sebagai pahala tabungan di akhirat, atau digantikan dengan dihindarkannya diri dari suatu keburukan yang setimpal. Pemahaman ini melahirkan ketenangan batin yang luar biasa sehingga lisan tidak akan pernah lelah mengetuk pintu langit.

Kita semua diingatkan kembali untuk selalu menundukkan ego dan meruntuhkan kesombongan batin dengan memperbanyak munajat. Jangan sampai kita menjadi hamba yang hanya mencari Allah di kala susah, namun melupakan-Nya di kala senang. Semoga Allah Swt. mengaruniakan kita hati yang selalu rindu untuk berdoa dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya di setiap waktu.