Pasrah Bukan Berarti Menyerah Tanpa Usaha
Banyak orang salah kaprah mengartikan tawakal atau pasrah kepada takdir. Dalam kajian Al-Hikam ini, dijelaskan bahwa tawakal yang benar adalah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin, namun menyerahkan hasil akhirnya secara total kepada kebijakan Allah. Dengan sikap ini, seseorang tidak akan stres saat menghadapi kegagalan dan tidak akan sombong saat meraih keberhasilan.
Menata Mental di Tengah Ketidakpastian Hidup
Kitab Al-Hikam mengajarkan kita untuk tidak mencoba “mengatur” Allah, melainkan membiarkan Allah yang mengatur hidup kita sesuai kehendak-Nya yang terbaik. KH. Imam Ghozali Sai’id menekankan bahwa beban pikiran yang berat seringkali muncul karena kita ingin semua terjadi sesuai keinginan kita sendiri. Belajarlah untuk rida terhadap setiap ketetapan-Nya, maka Allah akan memberikan ketenangan luar biasa.
Keutamaan Tawakal dan Rida
Allah SWT berfirman tentang jaminan bagi orang yang bertawakal:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3).
Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik baginya (jika ia bersyukur saat senang dan bersabar saat susah).” (HR. Muslim).