MQFMNETWORK.COM, Bandung – Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, sekitar 8 ribu remaja putri di Karawang mengalami anemia. Hal ini menjadi sorotan mengingat anemia dapat mempengaruhi kesehatan dan prestasi belajar remaja.
Anemia adalah kondisi di mana tubuh kekurangan sel darah merah yang berfungsi dengan baik. Menurut Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Meta Herdiana Hanindita, SpA(K) menjelaskan, anemia pada remaja perempuan dapat disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi terutama dari protein hewani. Pihaknya juga menyebutkan bahwa konsumsi minuman seperti teh dan kopi yang mengandung fitat, tanin, dan kafein dapat menghambat penyerapan zat besi.
Selain dugaan banyaknya remaja mengonsumsi minuman manis tersebut, sebab lain maraknya anemia dikalangan remaja diduga karena gaya hidup mengonsumsi makanan yang kurang bergizi seperti seblak dan bakso. Jika dikonsumsi secara berlebihan tanpa diimbangi asupan nutrisi lain, hal ini dapat berkontribusi pada kurangnya asupan zat besi yang diperlukan untuk mencegah anemia.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, prevalensi anemia di Provinsi Jawa Barat mencapai 41,8 persen. Kondisi tersebut terutama memengaruhi remaja putri yang menjadi salah satu kelompok dengan risiko tertinggi. Sebagai upaya penanggulangan, pemerintah telah mendistribusikan tablet penambah darah kepada sekitar 1,4 juta siswi di Jawa Barat.
Data tersebut menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan di Jawa Barat, khususnya di kalangan remaja putri. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut dalam edukasi gizi, peningkatan asupan zat besi dan pemantauan kesehatan untuk menurunkan angka prevalensi anemia di daerah tersebut.
Anemia pada remaja putri dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti rasa lelah, letih, dan lesu yang sering tidak disadari. Gejala ini dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga remaja menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Secara psikologis, anemia dapat menyebabkan perasaan berbeda dengan teman sebaya, karena tampilan wajah yang pucat, sakit kepala, kesulitan bernapas, dan sulit berkonsentrasi. Hal tersebut dapat menurunkan fungsi kognitif, sehingga proses berpikir menjadi lebih lambat.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan lembaga kesehatan telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya Dinas Kesehatan Karawang telah mengidentifikasi faktor risiko anemia pada remaja putri dan mengimbau agar remaja mengonsumsi makanan yang mengandung protein hewani serta menghindari konsumsi minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi.
Program: Bincang Sudut Pandang
Narasumber: Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Jawa Barat – dr. Rochady Hendra Setya Wibawa Sp.Og