Antara Sunnah Menatap Tempat Sujud dan Kekhusyukan
Hukum asal dalam sholat adalah membuka mata dan menatap ke arah tempat sujud. Namun, sering kali Sahabat MQ merasa lebih tenang dan “meresapi” bacaan sholat dengan memejamkan mata. Ustadz Mulyadi memaparkan adanya perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini, di mana sebagian memakruhkannya jika dilakukan tanpa alasan, karena dianggap menyerupai ibadah kaum Majusi.
Namun, jika di depan Sahabat MQ terdapat pemandangan yang mengganggu atau cahaya yang terlalu silau, maka memejamkan mata diperbolehkan. Fokus utama sholat adalah kehadiran hati. Jadi, membuka atau memejamkan mata hanyalah sarana untuk mencapai tujuan utama tersebut, yaitu hudhurul qalb atau hadirnya hati secara utuh di hadapan Sang Pencipta.
Hal ini sejalan dengan kaidah bahwa syariat Islam itu memudahkan hamba-Nya. Jika dengan membuka mata Sahabat MQ justru melihat hal-hal yang membuyarkan konsentrasi, maka menutup mata menjadi solusi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Ustadz Mulyadi mengutip pendapat ulama besar Ibnu Qayyim yang sangat bijak dalam masalah ini. Beliau menjelaskan bahwa jika membuka mata tidak mengganggu kekhusyukan, maka itu lebih utama (afdol). Namun, jika memejamkan mata justru membantu seseorang untuk lebih khusyuk karena adanya gangguan di sekitarnya, maka hal itu tidak lagi makruh, bahkan bisa menjadi lebih baik.
Sahabat MQ harus jujur pada diri sendiri; apakah memejamkan mata tersebut benar-benar untuk khusyuk atau justru karena mengantuk? Sering kali, menutup mata terlalu lama saat sholat malah memicu rasa kantuk dan membuat kita kehilangan kesadaran terhadap gerakan sholat. Inilah risiko yang harus diwaspadai agar ibadah Sahabat MQ tidak berubah menjadi sekadar istirahat singkat.
Keseimbangan adalah kunci. Cobalah untuk tetap membuka mata sesuai sunnah Nabi SAW, namun tetap kendalikan pandangan agar tidak liar. Jika memang gangguan visual sangat kuat, barulah Sahabat MQ menutup mata sejenak untuk mengembalikan fokus. Dengan memahami konteks ini, kita bisa menjalankan ibadah dengan landasan ilmu yang kuat dan tidak sekadar ikut-ikutan.
Melatih Konsentrasi Tanpa Harus Menutup Mata
Latihan terbaik bagi Sahabat MQ adalah mampu tetap khusyuk meskipun mata dalam keadaan terbuka. Ini adalah tingkat konsentrasi yang tinggi di mana mata fisik melihat tempat sujud, namun mata hati sibuk berdialog dengan Allah SWT. Ustadz Mulyadi mendorong kita untuk melatih fokus ini secara bertahap dalam setiap sholat fardhu maupun sunnah.
Gunakanlah kekuatan imajinasi positif bahwa Allah sedang memperhatikan setiap gerakan kita. Rasa diawasi oleh Sang Maha Melihat akan membuat Sahabat MQ segan untuk memejamkan mata karena ingin terus bersikap siaga dan santun dalam pengabdian. Ketajaman fokus mata yang selaras dengan fokus hati adalah tanda kematangan spiritual seorang mukmin.
Mari kita jadikan pandangan mata ke tempat sujud sebagai pengingat akan kerendahan hati kita. Dengan mata yang terbuka, Sahabat MQ juga lebih waspada terhadap lingkungan sekitar, terutama jika sholat di tempat umum. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kemampuan untuk menjaga kekhusyukan dalam kondisi apa pun, baik dengan mata terbuka maupun saat harus memejamkannya.