Polemik Memejamkan Mata Saat Berdiri Shalat

Banyak Sahabat MQ yang merasa lebih fokus jika memejamkan mata erat-erat saat shalat. Namun, para ulama menjelaskan bahwa hukum asalnya adalah makruh karena menyerupai ibadah kaum Majusi. Sunnah yang utama adalah tetap membuka mata dan mengarahkannya ke tempat sujud sebagai bentuk ketundukan hamba. Sahabat MQ Salat adalah ibadah yang paling utama dalam Islam. Ritual ini terdiri atas rangkaian ucapan dan gerakan, dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Umat Islam diwajibkan menegakkan salat lima waktu: Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Salat memiliki syarat wajib, syarat sah, dan rukun yang harus dijalankan dengan benar. Karenanya, tata cara salat telah diajarkan langsung oleh Rasulullah Saw. Sebagaimana sabda beliau:

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ قَالَ :أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : … وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي… [رواه البخاري]

Artinya: “Dari Abu Qilabah, Malik bin al-Huwairits berkata: Kami mendatangi Nabi Saw, lalu beliau bersabda … dan salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” [HR. al-Bukhari no. 6705].

Hadis ini menegaskan bahwa salat harus dilakukan sesuai dengan praktik Nabi Saw. Dalam salat, Rasulullah mengarahkan wajah dan pandangan mata ke satu titik: tempat sujud. Pandangan ini berfungsi menjaga konsentrasi sekaligus menghadirkan kekhusyukan hati.

Pengecualian Bagi Kondisi Gangguan Visual

Memejamkan mata hanya diperbolehkan jika di depan tempat shalat terdapat gangguan yang benar-benar merusak konsentrasi, seperti lukisan mencolok atau gangguan lainnya. Jika suasana sudah kondusif, bukalah mata Sahabat MQ dengan tenang agar kesadaran penuh tetap terjaga. Keseimbangan antara penglihatan dan perasaan hati adalah kunci utama dalam shalat yang berkualitas. Sahabat MQ Dalam praktik shalat, seorang Muslim menghadap kiblat dan memasuki keadaan ibadah dengan niat yang tulus. Shalat yang khusyu’ lebih utama dari shalat yang tidak khusyu’.

Dalil Menjaga Kepekaan Indera Saat Ibadah

Islam mengajarkan kita untuk tetap sadar akan lingkungan sekitar saat berkomunikasi dengan Allah agar tidak terjebak dalam lamunan. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa shalat beliau adalah cerminan dari kesiagaan lahir dan batin. Hendaknya kita senantiasa menjaga adab-adab yang telah digariskan agar pahala mengalir sempurna. Sahabat MQ Dalil utama mengenai keharusan menjaga kepekaan indera (pendengaran, penglihatan, dan hati) saat beribadah adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Isra ayat 36. Manusia diwajibkan menggunakan seluruh indera sebagai alat untuk mengabdi kepada Allah dan menaati perintah-Nya, yang disimbolkan dengan menjaga fungsi jasmani agar tetap sehat dan fokus dalam ketaatan.

Allah berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَـيۡسَ لَـكَ بِهٖ عِلۡمٌ​ ؕ اِنَّ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔوۡلًا‏

Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.