Mengapa Malaikat Jibril Selalu Berwasiat Tentang Tetangga?

Ustadz Olis dalam Program Inspirasi Malam Segmen Kajian Akhlak menceritakan sebuah riwayat menarik dalam kajiannya, di mana Malaikat Jibril terus-menerus memberikan wasiat kepada Rasulullah ﷺ untuk berbuat baik kepada tetangga. Sahabat MQ, wasiat ini disampaikan begitu sering hingga Rasulullah ﷺ mengira tetangga akan mendapatkan bagian dari harta warisan kita. Hal ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan tetangga dalam syariat Islam.

Kedekatan hubungan dengan tetangga bahkan disetarakan dengan kedekatan nasab dalam hal perhatian sosial. Kita diajarkan untuk tidak tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga kita kelaparan. Inilah standar iman yang sangat tinggi, di mana keshalehan seseorang tidak hanya diukur dari sujudnya di atas sajadah, tetapi juga dari kepekaan sosialnya.

Wasiat Malaikat Jibril tersebut tertuang dalam hadis berikut:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Artinya: “Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku menyangka bahwa tetangga itu akan mendapatkan harta waris.” (HR. Bukhari).

Menghadirkan Rasa Bahagia Atas Nikmat Orang Lain

Sahabat MQ, salah satu penyakit yang sering merusak hubungan bertetangga adalah sifat hasad atau iri dengki. Ustadz Olis dalam Program Inspirasi Malam Segmen Kajian Akhlak mengingatkan kita untuk ikut merasa bahagia ketika tetangga mendapatkan nikmat, seperti rumah baru atau kenaikan pangkat. Alih-alih merasa sakit hati, kita sebaiknya mendoakan agar nikmat tersebut berkah bagi mereka.

Mendoakan kebaikan untuk tetangga adalah cara paling ampuh untuk membersihkan hati dari sifat dengki. Jika kita belum sanggup memberikan bantuan materi, setidaknya berikanlah “bantuan doa”. Ingatlah bahwa ketika kita mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka, malaikat akan mengaminkan doa tersebut untuk kita juga.

Nabi Muhammad ﷺ memberikan definisi tentang kesempurnaan iman yang terkait dengan kasih sayang:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim).

Sabar Menghadapi Gangguan Lingkungan

Tantangan terbesar dalam bertetangga adalah ketika kita mendapatkan gangguan, baik berupa sampah, kebisingan, maupun perkataan yang kurang menyenangkan. Sahabat MQ, Islam mengajarkan kita untuk bersabar dan membalas keburukan dengan kebaikan. Kesabaran kita dalam menghadapi gangguan tetangga adalah salah satu pintu menuju kemuliaan akhlak.

Jika gangguan tersebut sudah melampaui batas, sampaikanlah keberatan dengan cara yang paling sopan dan santun. Mengajak bicara dari hati ke hati sering kali lebih efektif daripada melaporkannya dengan amarah. Dengan mengedepankan adab, kita sedang berdakwah secara nyata melalui perilaku kita sehari-hari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang membalas keburukan dengan kebaikan:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Artinya: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34).