MQFMNETWORK.COM | Ketegangan diplomatik global kembali meningkat. Amerika Serikat terlihat semakin konfrontatif dalam kebijakan luar negerinya, bukan hanya terhadap negara yang selama ini dianggap lawan, tetapi juga terhadap kawasan dan mitra strategisnya sendiri.
Mulai dari Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Eropa Utara, pola kebijakan Amerika menunjukkan arah yang semakin tegas, agresif, dan berorientasi pada kepentingan nasional sempit.
Situasi ini memunculkan pertanyaan penting bagi Indonesia
Sejauh mana eskalasi konflik global tersebut dapat berdampak pada stabilitas ekonomi, keamanan, dan posisi diplomasi Indonesia ke depan?
Pola Agresivitas Amerika di Banyak Kawasan
Menurut pengamatan berbagai analis, kebijakan Amerika saat ini tidak berdiri pada satu kasus tertentu, melainkan membentuk pola lintas wilayah.
Beberapa contoh yang mencuat ke permukaan antara lain
- Tekanan berkelanjutan terhadap Venezuela melalui sanksi ekonomi dan pembatasan perdagangan energi
- Ketegangan yang tak pernah sepenuhnya reda dengan Iran, terutama terkait isu nuklir dan konflik kawasan
- Manuver geopolitik di Greenland yang memicu ketegangan diplomatik dengan Denmark dan Eropa
Isu-isu tersebut menegaskan bahwa kepentingan strategis, sumber daya alam, dan dominasi geopolitik menjadi faktor utama di balik kebijakan Amerika.
Dunia dalam Fase Tarik-Menarik Kekuatan
Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika dan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Dra. Suzie S. Sudarman, MA, menilai bahwa dunia saat ini berada dalam fase tarik-menarik kekuatan global yang semakin tajam.
Menurut Suzie, yang mengudara di Radio MQFM Bandung pada Senin, 19/01/2026, Amerika kini melihat dunia dalam kategori yang sangat jelas.
Ia membagi peta global ke dalam tiga kelompok besar
- Amerika Serikat sebagai pusat kepentingan utama
- China dan Rusia sebagai kekuatan penyeimbang sekaligus pesaing strategis
- Negara-negara Eropa serta Asia dan negara berkembang yang dinilai lebih mudah dipengaruhi atau dimanipulasi
Dalam kerangka inilah, Indonesia tidak sepenuhnya berada di posisi aman.
Indonesia dan Risiko Fear of Influence
Suzie menyoroti bahwa Indonesia masuk dalam kategori negara yang rawan terhadap fear of influence, terutama dari China.
Kerawanan ini tidak selalu berbentuk tekanan militer, melainkan
- Ketergantungan ekonomi
- Pengaruh investasi strategis
- Lemahnya posisi tawar jika kepentingan nasional tidak dijaga dengan kuat
Di tengah rivalitas global yang kian terbuka, negara-negara berkembang seperti Indonesia harus ekstra hati-hati agar tidak terseret kepentingan pihak tertentu.
Munculnya Paham National Security State di Amerika
Suzie juga menyinggung munculnya paham baru dalam kebijakan Amerika, yakni national security state.
Dalam paham ini
- Kepentingan nasional Amerika ditempatkan di atas segalanya
- Kebijakan luar negeri diarahkan untuk mengamankan kebutuhan sumber daya alam
- Nasionalisme ditampilkan tidak selalu dengan retorika keras, tetapi melalui langkah-langkah strategis yang sistematis
Artinya, diplomasi, ekonomi, hingga tekanan politik menjadi satu paket kebijakan.
Kerentanan Indonesia dari Dalam Negeri
Di sisi lain, Suzie menilai Indonesia menghadapi persoalan serius dari dalam negeri.
Beberapa catatan penting yang disorot
- Jarak antara elite dan rakyat yang semakin lebar
- Sistem kapitalistik yang mendorong keuntungan pribadi dan kelompok
- Lemahnya prioritas negara terhadap pendidikan sebagai fondasi utama daya saing bangsa
Menurutnya, kelemahan utama Indonesia justru terletak pada kesiapan sumber daya manusia dan keteguhan elite dalam menjaga kepentingan nasional.
Indonesia memiliki kekayaan strategis seperti tanah jarang dan sumber daya mineral, namun pengelolaannya masih rawan diseret kepentingan sempit.
Menjaga Persatuan di Tengah Tekanan Global
Dalam situasi global yang penuh tekanan, Suzie menegaskan bahwa Indonesia harus kembali pada kekuatan dasarnya.
Kunci utama yang perlu dijaga adalah
- Persatuan masyarakat yang kini mulai terkotak-kotak
- Kesadaran kolektif untuk melindungi kepentingan nasional
- Kecermatan publik dalam mengawasi arah kebijakan elite, apakah benar berpihak pada rakyat atau justru menjual kepentingan bangsa
Dunia boleh bergerak semakin keras dan kompetitif, tetapi Indonesia tidak boleh kehilangan arah.
Di tengah pusaran geopolitik global, sikap waspada, bersatu, dan berdaulat menjadi modal penting agar Indonesia tetap berdiri tegak, tidak terseret arus, dan mampu menjaga masa depannya sendiri.