Kuasa Keteladanan Dibanding Kata-Kata
Banyak orang tua yang merasa bingung mengapa anak-anak mereka sulit sekali mengikuti arahan atau perkataan yang disampaikan. Sahabat MQ perlu memahami bahwa dunia anak-anak adalah dunia meniru apa yang ada di sekitar mereka. Mereka mungkin tidak selalu mendengar ucapan, tetapi mereka tidak pernah gagal melihat tindakan nyata yang dicontohkan.
Mendidik dengan memberikan contoh langsung selama dua puluh empat jam memiliki dampak yang jauh lebih kuat daripada rangkaian khotbah yang panjang. Ketika seorang ayah ingin anaknya rajin beribadah di masjid, maka ia harus terlebih dahulu melangkahkan kakinya ke sana. Keteladanan merupakan bahasa dakwah yang paling efektif di dalam lingkungan keluarga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan yang cukup keras bagi orang-orang yang hanya pandai berbicara tanpa mempraktikkannya. Firman-Nya di dalam Al-Qur’an Surat As-Saff ayat 2-3:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Proses Pembiasaan Sejak Dini
Membentuk karakter seorang anak menjadi pribadi yang saleh memerlukan waktu yang panjang dan kesabaran yang tiada batas. Proses ini tidak bisa dilakukan secara instan dalam waktu satu atau dua hari saja melalui sebuah teguran keras. Diperlukan latihan yang konsisten dan pembiasaan yang terus-menerus dilakukan setiap harinya sahabat MQ.
Sebagai contoh, dalam mengajarkan ibadah salat, Islam memberikan kelonggaran waktu selama bertahun-tahun untuk membiasakannya. Latihan yang berulang-ulang ribuan kali ini akan menanamkan memori kebaikan di dalam jiwa sang anak. Dengan demikian, ibadah akan dirasakan sebagai sebuah kebutuhan, bukan lagi sebagai beban yang memberatkan.
Panduan mengenai pembiasaan ibadah salat ini telah diatur dengan sangat detail melalui lisan suci Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
Artinya: “Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan salat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud).
Menjadi Teko yang Mengeluarkan Air Bersih
Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh para orang tua adalah prinsip bahwa seorang anak merupakan cerminan dari orang tuanya sendiri. Sebuah peribahasa bijak menyebutkan bahwa teko hanya akan mengeluarkan isinya, tidak mungkin mengeluarkan sesuatu yang tidak ada di dalamnya. Jika ingin memiliki anak yang tutur katanya lembut, maka orang tua harus menjaga lisannya terlebih dahulu.
Memperbaiki diri sendiri adalah langkah paling logis sebelum menuntut perubahan besar pada karakter anak-anak di rumah. Kesalehan yang diusahakan oleh ayah dan ibu akan mengalirkan energi positif yang luar biasa bagi perkembangan jiwa anak. Oleh karena itu, mari terus belajar dan berbenah demi masa depan generasi kita sahabat MQ.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam selalu menekankan pentingnya akhlak yang baik dalam kehidupan berkeluarga, di mana beliau menjadi contoh terbaiknya. Beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).