Menepis Bisikan Was-Was Setan

Rasa khawatir terhadap masa depan ekonomi keluarga merupakan hal yang manusiawi, namun jangan sampai menghentikan langkah untuk berbuat baik. Sahabat MQ yang baru menikah terkadang diuji dengan pikiran-pikiran cemas mengenai kecukupan nafkah untuk buah hati kelak. Perlu disadari bahwa ketakutan yang berlebihan dan membuat putus asa biasanya berasal dari bisikan setan.

  1. Mengusir Bisikan Was-was Setan terhadap Masa Depan Ekonomi: Rasa khawatir itu manusiawi, namun tidak boleh menghentikan kebaikan. Ketakutan berlebih sering berasal dari bisikan setan dan harus diubah menjadi energi positif untuk berbuat lebih giat.
  2. Bergerak Menjemput Rezeki dengan Tawakkal yang Benar: Tawakkal berarti ikhtiar maksimal di dunia sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah; dengan langkah nyata menjemput nafkah, jalan kemudahan akan terbuka.
  3. Peran Anak dan Pemberian Rezeki yang Adil: Setiap anak membawa keberkahan rezeki yang telah diatur secara adil; orang tua berperan sebagai mediator yang jujur dan gigih dalam menyalurkan rezeki halal kepada keluarga.
  4. Ketenangan Jiwa dalam Rumah Tangga melalui Iman dan Doa: Ketenangan sejati tidak diukur dari saldo, melainkan dari dukungan anggota keluarga pada ketaatan kepada Allah dan lantunan Al-Qur’an yang memberi suasana luas dan nyaman.
  5. Janji Allah atas Doa yang Dipohoni dengan Tulus: Janji Allah akan mengabulkan doa bagi hamba yang berdoa dengan tulus, sebagaimana firman-Nya dalam Ghafir ayat 60 yang menguatkan keyakinan akan pemenuhan doa.

Islam mengajarkan pemeluknya untuk memiliki keyakinan yang kuat bahwa setiap makhluk yang bernyawa telah dijamin rezekinya oleh Sang Pencipta. Menghentikan impian memiliki anak saleh hanya karena takut kekurangan harta adalah sebuah kekeliruan yang nyata. Ketakutan tersebut harus diubah menjadi energi positif untuk lebih giat bekerja dan berusaha.

Larangan untuk merasa takut miskin karena kehadiran anak secara tegas telah disebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 31:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu.”

Bergerak Menjemput Rezeki yang Berkah

Menyerahkan urusan rezeki kepada Allah bukan berarti bersikap malas-malasan tanpa melakukan usaha yang nyata di dunia. Pemahaman tawakal yang benar adalah melakukan ikhtiar secara maksimal, kemudian memasrahkan hasilnya kepada ketetapan Yang Maha Kuasa. Ketika seseorang mulai melangkah untuk menjemput nafkah, jalan-jalan kemudahan akan mulai terbuka.

Setiap anak yang lahir membawa keberkahan dan garis rezekinya masing-masing yang telah diatur dengan sangat adil. Tugas utama orang tua adalah menjadi perantara yang jujur dan gigih dalam mengalirkan rezeki halal tersebut ke dalam rumah. Rasa percaya diri akan tumbuh seiring dengan besarnya usaha yang dilakukan sahabat MQ.

Semangat untuk terus bergerak dan tidak menyerah pada keadaan sejalan dengan pesan penting dalam hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Artinya: “Sungguh, seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).

Menemukan Ketenangan Jiwa dalam Rumah Tangga

Ketenangan sejati di dalam sebuah keluarga tidak diukur dari seberapa banyak saldo rekening yang dimiliki oleh orang tua. Rasa aman dan damai akan hadir saat seluruh anggota keluarga saling mendukung dalam ketaatan kepada Allah. Rumah yang di dalamnya lantunan Al-Qur’an sering terdengar akan terasa sangat luas dan nyaman.

Anak yang dididik dengan pemahaman agama yang lurus akan tumbuh menjadi sosok yang qanaah dan penuh rasa syukur. Mereka tidak akan menuntut kemewahan yang di luar batas kemampuan orang tuanya. Kehadiran mereka justru menjadi penyemangat utama bagi ayah dan ibu untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari sahabat MQ.

Janji Allah mengenai pengabulan doa hamba-Nya yang mau berharap dengan tulus merupakan sumber ketenangan yang utama. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Ghafir ayat 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'”