Umur Amal yang Melampaui Usia Biologis
Setiap insan beriman tentu mendambakan agar lembaran amal kebaikannya tidak berhenti begitu saja saat jantungnya telah berhenti berdetak. Usia biologis manusia di dunia ini sangat terbatas dan penuh dengan kekurangan di sana-sini. Namun, Islam memberikan jalan keluar yang luar biasa agar masa produktif pahala bisa diperpanjang secara jangka panjang sahabat MQ.
Mendidik anak dengan bekal agama yang kuat adalah cara terbaik untuk melipatgandakan tabungan akhirat. Setiap kali sang anak bersujud, membaca Al-Qur’an, atau bersedekah, maka orang tuanya akan mendapatkan aliran pahala yang serupa. Inilah yang dinamakan dengan investasi spiritual yang tidak akan pernah mengenal kata kebangkrutan.
Sebab, seorang anak pada hakikatnya merupakan bagian dari jerih payah dan usaha yang dilakukan oleh orang tuanya selama di dunia. Berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud dan Ahmad, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ
Artinya: “Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya adalah termasuk dari hasil usahanya.”
Menjadi Penyelamat di Alam Barzakh
Suasana di alam kubur yang gelap dan sepi bisa berubah menjadi sangat indah dan terang benderang berkat aktivitas anak di dunia. Ketika anak yang ditinggalkan melaksanakan salat tahajud di sepertiga malam, cahaya kebaikan itu sampai kepada orang tuanya. Sungguh sebuah anugerah yang tidak bisa dinilai dengan tumpukan emas permata sekalipun.
Konsistensi anak dalam menjalankan syariat Islam menjadi bukti keberhasilan pola asuh yang diterapkan terdahulu. Oleh karena itu, perjuangan membiayai pendidikan agama anak akan terasa sangat murah jika dibandingkan dengan hasil yang didapatkan nanti. Kebahagiaan di alam barzakh adalah buah manis dari kesabaran mendidik di dunia sahabat MQ.
Pentingnya menjaga persaudaraan dan kebaikan di tengah keluarga juga menjadi bagian dari amal saleh yang pahalanya mengalir. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai perumpamaan hubungan sesama muslim:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Artinya: “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Meraih Predikat Kebaikan yang Paripurna
Mengejar kebaikan di dunia ini akan terasa jauh lebih bermakna ketika melibatkan seluruh anggota keluarga dalam visi yang sama. Rumah tangga yang ideal bukan yang sepi dari ujian, melainkan yang selalu kembali kepada petunjuk Al-Qur’an saat badai datang. Setiap tantangan yang dihadapi bersama akan menguatkan ikatan batin yang ada.
Mari jadikan setiap sisa waktu yang dimiliki untuk terus menanam benih-benih kesalehan pada diri sendiri dan keturunan kita. Harapan besar kita adalah berkumpul kembali di dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan abadi tanpa ada perpisahan lagi. Semoga Allah memudahkan setiap ikhtiar mulia yang sedang dijalankan saat ini sahabat MQ.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan derajat kemuliaan bagi orang-orang yang teguh mempertahankan keimanannya. Sebagaimana yang tertuang di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 139:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, sebab kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”