literasi digital

MQFMNETWORK.COM | Kemampuan komputer di kalangan generasi muda di Jawa Barat masih menjadi sorotan, meskipun akses terhadap teknologi digital terus meningkat. Di tengah pesatnya penggunaan internet dan smartphone, keterampilan dasar seperti mengoperasikan komputer, mengolah data, hingga menggunakan perangkat lunak produktivitas belum dimiliki secara merata.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara akses dan pemanfaatan teknologi. Generasi muda memang akrab dengan dunia digital, tetapi belum sepenuhnya mampu memanfaatkannya untuk aktivitas produktif.

Kondisi ini menjadi penting untuk dicermati, mengingat kemampuan komputer kini menjadi salah satu kompetensi dasar dalam dunia pendidikan dan pekerjaan di era digital.

Literasi Digital Meningkat, Tapi Belum Optimal

Secara nasional, tingkat literasi digital Indonesia memang menunjukkan peningkatan, namun masih berada pada kategori “cukup”. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi belum sepenuhnya maksimal.

Di Jawa Barat, kondisi serupa juga terlihat. Infrastruktur digital berkembang pesat, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan keterampilan penggunaan teknologi secara produktif.

Pengamat teknologi informasi, Onno W. Purbo, menilai bahwa literasi digital di Indonesia masih cenderung bersifat “pengguna pasif”. Menurutnya, banyak masyarakat yang hanya menggunakan teknologi untuk konsumsi, bukan untuk produksi atau inovasi.

Akses Perangkat Masih Jadi Tantangan

Keterbatasan akses terhadap perangkat seperti komputer dan laptop menjadi salah satu faktor utama rendahnya kemampuan komputer. Banyak pelajar masih mengandalkan smartphone sebagai perangkat utama untuk belajar.

Padahal, fungsi komputer jauh lebih luas, terutama dalam hal pengolahan data, pemrograman, hingga pekerjaan berbasis digital lainnya. Ketimpangan akses ini membuat sebagian generasi muda tertinggal dalam keterampilan teknis.

Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Dedi Supriadi, menilai bahwa pemerataan akses perangkat menjadi hal yang mendesak. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, upaya peningkatan literasi digital akan sulit tercapai secara merata.

Pola Penggunaan Gadget yang Konsumtif

Selain akses, pola penggunaan teknologi juga menjadi faktor penting. Banyak generasi muda lebih sering menggunakan gadget untuk hiburan seperti media sosial, game, dan streaming dibandingkan untuk belajar atau bekerja.

Ainun Sabila Hamdillah Ismail selaku Lead Psychology Research dari Drone Emprit, dalam Bincang Sudut Pandang Radio MQFM Bandung, Kamis (09/04), menyoroti bahwa kebiasaan ini berkaitan erat dengan pola perilaku digital. Dalam perbincangan yang dibahas, ia menjelaskan bahwa tanpa arahan dan literasi yang tepat, teknologi akan lebih sering digunakan untuk konsumsi daripada produksi.

Menurutnya, perubahan mindset menjadi kunci. Generasi muda perlu didorong untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk berkarya, belajar, dan meningkatkan produktivitas, bukan sekadar hiburan.

Kurikulum Pendidikan Belum Maksimal

Peran pendidikan menjadi faktor krusial dalam meningkatkan kemampuan komputer generasi muda. Namun, integrasi literasi digital dalam kurikulum dinilai masih belum optimal.

Banyak siswa yang hanya mendapatkan pengetahuan dasar tanpa praktik yang cukup. Hal ini membuat kemampuan teknis mereka tidak berkembang secara maksimal.

Pengamat kebijakan pendidikan dari Universitas Padjadjaran, Cecep Darmawan, menilai bahwa kurikulum perlu disesuaikan dengan kebutuhan era digital. Ia menekankan pentingnya pembelajaran berbasis praktik agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya.

Dampak terhadap Produktivitas dan Daya Saing

Rendahnya kemampuan komputer berdampak langsung pada produktivitas generasi muda. Dalam dunia kerja yang semakin digital, keterampilan ini menjadi syarat dasar yang tidak bisa diabaikan.

Ekonom dari Center of Reform on Economics, Piter Abdullah Redjalam, menilai bahwa rendahnya literasi digital dapat menghambat daya saing tenaga kerja. Menurutnya, tanpa peningkatan keterampilan, bonus demografi Indonesia berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal.

Selain itu, kesenjangan kemampuan digital juga dapat memperlebar ketimpangan sosial. Mereka yang memiliki akses dan keterampilan akan lebih cepat berkembang, sementara yang tidak akan semakin tertinggal.

Perlu Upaya Bersama dan Terarah

Mengatasi rendahnya kemampuan komputer generasi muda tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat.

Penyediaan akses perangkat, penguatan kurikulum, serta perubahan pola penggunaan teknologi menjadi langkah penting yang harus dilakukan secara bersamaan.

Para pengamat sepakat bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga soal budaya dan kebiasaan. Generasi muda perlu dibentuk menjadi pengguna teknologi yang aktif, kreatif, dan produktif.

Ke depan, peningkatan kemampuan komputer menjadi kunci dalam menghadapi tantangan era digital. Tanpa itu, potensi besar generasi muda Jawa Barat justru berisiko tidak berkembang secara optimal di tengah pesatnya kemajuan teknologi.