Qur'an

Intensitas Waktu dan Kerinduan yang Mendalam

Indikator pertama kedekatan seorang hamba dengan Al-Qur’an dapat diukur dari seberapa besar ruang yang ia berikan dalam jadwal harian bagi Kitabullah. KH. Hery Saparjan menekankan bahwa orang yang benar-benar dekat tidak akan membiarkan satu hari pun berlalu tanpa menyentuh ayat-ayat-Nya, karena ia menganggapnya sebagai kebutuhan spiritual yang utama. Perasaan rindu untuk terus berinteraksi adalah tanda bahwa cahaya Al-Qur’an mulai menetap dan memberikan ketenangan di dalam hatinya.

Seseorang yang dekat dengan Al-Qur’an akan merasakan getaran keimanan yang bertambah setiap kali ayat-ayat tersebut diperdengarkan atau dibaca. Ia tidak menjadikan kegiatan membaca sebagai beban rutinitas, melainkan sebagai momen istimewa untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Allah SWT memberikan apresiasi yang luar biasa bagi mereka yang selalu menyibukkan diri dengan membaca kitab-Nya sebagai bentuk perniagaan yang mendatangkan keberkahan abadi, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Fatir ayat 29:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

Selain intensitas, kualitas interaksi tersebut tercermin dari semangat untuk terus meningkatkan pemahaman dan kemahiran. Rasulullah SAW memberikan standar kemuliaan bagi hamba yang mendedikasikan hidupnya untuk mendalami wahyu Allah. Semakin besar usaha kita untuk belajar, semakin tinggi pula derajat kemuliaan kita di sisi-Nya, sesuai dengan sabda beliau yang sangat populer mengenai sebaik-baiknya manusia: “خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ” (Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) (HR. Bukhari).

Keselarasan Antara Lisan dan Kejujuran Batin

Indikator kedua yang sangat krusial adalah adanya integritas antara apa yang dilisankan saat membaca Al-Qur’an dengan kejujuran di dalam kalbu. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi mereka yang jujur dalam beriman, sehingga setiap kata yang terucap dari bibir merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya secara detail di hari akhir kelak. Hamba yang benar-benar dekat dengan wahyu akan selalu menjaga dirinya dari perilaku mengada-ngadakan kebohongan dalam bentuk apa pun.

Kebohongan batin menciptakan sekat hitam yang menghalangi masuknya petunjuk Allah ke dalam kalbu, sehingga Al-Qur’an hanya akan berhenti di kerongkongan tanpa pernah memberikan dampak perubahan. Allah SWT memberikan peringatan yang sangat tegas bagi orang-orang yang tindakannya sering kali mengada-ngadakan kebohongan dan berpaling dari kebenaran ayat-ayat-Nya. Perilaku dusta adalah indikator hilangnya iman sejati, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nahl ayat 105:

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-ngadakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah para pembohong.”

Integritas inilah yang membedakan seorang pencinta Al-Qur’an sejati dengan mereka yang hanya berpura-pura. Kedekatan yang hakiki menuntut kejujuran dalam berucap dan bertindak, karena ia sadar bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hatinya. Rasulullah SAW pun senantiasa mengingatkan pentingnya menjaga lisan sebagai cerminan iman bagi siapa saja yang mengharapkan rida Allah dan keselamatan di hari akhir: “مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ” (Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam) (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketaatan Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Kompas Hidup

Indikator terakhir adalah sejauh mana Al-Qur’an hadir sebagai pengarah saat seseorang berada di persimpangan keputusan. KH. Hery Saparjan menjelaskan bahwa seseorang baru dikatakan dekat dengan Al-Qur’an jika ia melibatkan prinsip-prinsip wahyu dalam setiap langkah hidupnya. Ia tidak akan mengambil keputusan berdasarkan nafsu belaka, melainkan selalu merujuk pada bimbingan Allah agar jalannya tetap berada di rel yang benar dan tidak tersesat dalam kegelapan dunia.

Proses tadabur atau perenungan ayat inilah yang menjadi kunci agar Al-Qur’an benar-benar mampu menuntun manusia menuju jalan yang paling lurus. Allah SWT menjanjikan bahwa mereka yang bersandar pada Al-Qur’an akan mendapatkan kabar gembira berupa kemudahan dan pahala yang besar atas setiap amal shaleh yang dilakukan. Janji kepastian petunjuk ini tertuang dengan indah dalam QS. Al-Isra ayat 9:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

Pada akhirnya, bukti kedekatan tersebut akan berbuah pada ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun. Rasulullah SAW menjanjikan bahwa bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh menjadikan rumah Allah sebagai tempat mempelajari Kitabullah, maka ia akan diliputi oleh rahmat dan ketenangan batin yang luar biasa. Beliau bersabda mengenai turunnya kedamaian tersebut: “مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ… إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ” (Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah membaca Kitabullah… melainkan ketenangan akan turun kepada mereka) (HR. Muslim).