Fatamorgana Dunia yang Sering Menipu Manusia
Di dunia ini, banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan setinggi langit dan mengumpulkan harta hingga berlimpah tujuh turunan. Kita sering kali merasa bahwa dengan memiliki kekuasaan atau kekayaan, segala urusan akan menjadi mudah dan semua pintu akan terbuka. Namun, dalam kacamata akidah Islam, semua itu hanyalah perhiasan dunia yang bersifat sementara dan akan ditinggalkan saat raga masuk ke liang lahat.
Dalam kajian “Mahkamah Akhirat”, Ustaz Abu Yahya mengingatkan bahwa pada hari pembalasan, Allah tidak akan melihat seberapa megah rumah kita atau seberapa tinggi pangkat yang tertera di kartu nama. Semua atribut duniawi itu akan dilepaskan, dan manusia akan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan yang sangat lemah. Pada saat itu, harta yang kita banggakan tidak bisa digunakan untuk menyuap malaikat, dan jabatan tidak bisa digunakan untuk memerintah agar siksaan dihentikan.
Ketakutan terbesar di akhirat kelak adalah ketika manusia menyadari bahwa mereka telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar sesuatu yang tidak membantu mereka sedikit pun di pengadilan Allah. Harta yang tidak dizakatkan justru akan menjadi beban, dan jabatan yang tidak amanah akan menjadi sumber penyesalan yang mendalam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari sejak dini bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua materi tersebut.
Penyelamat Hakiki di Mahkamah Akhirat
Lantas, jika bukan harta dan jabatan, apa yang sebenarnya bisa menyelamatkan kita? Jawabannya adalah tauhid yang lurus dan amal jariyah yang ikhlas karena Allah Swt. Tauhid adalah kunci utama; seseorang yang memiliki iman yang bersih dari kesyirikan akan memiliki harapan untuk mendapatkan ampunan, meskipun ia memiliki dosa sebanyak buih di lautan. Tanpa tauhid, segala amal kebaikan yang dilakukan di dunia akan sirna bagaikan debu yang tertiup angin kencang.
Selain tauhid, “mata uang” yang berlaku di mahkamah akhirat adalah amal saleh. Amal inilah yang akan menemani kita di alam kubur hingga berdiri di padang mahsyar. Ustaz Abu Yahya menjelaskan bahwa orang yang selamat adalah mereka yang selama di dunia tidak pamer (mujahirah) akan kemaksiatannya dan selalu berusaha bertaubat dengan sungguh-sungguh. Mereka inilah yang berpeluang mendapatkan Hisab Yasirah atau pemeriksaan yang sangat ringan dari Sang Pencipta.
Ketulusan hati dalam beribadah dan kebaikan kepada sesama juga menjadi faktor penentu yang sangat besar. Sering kali, satu perbuatan kecil yang dilakukan dengan ikhlas, seperti memberi minum hewan yang kehausan atau menyingkirkan duri di jalan, justru lebih berat timbangannya daripada ibadah besar yang dilakukan karena ingin dipuji orang lain. Keikhlasan inilah yang akan menjadi tameng kita di saat semua orang sibuk memikirkan nasibnya masing-masing.
Kesaksian Anggota Tubuh yang Jujur
Pada hari pembalasan, sistem pengadilannya sangat berbeda dengan dunia karena tidak ada ruang untuk bersaksi palsu atau berbohong. Allah Swt. akan menutup mulut manusia agar tidak bisa lagi membuat-buat alasan (ngeles) atas perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Sebagai gantinya, anggota tubuh yang selama ini kita gunakan akan diperintahkan oleh Allah untuk berbicara secara otomatis sesuai dengan apa yang benar-benar mereka lakukan selama di dunia.
Tangan akan melaporkan apa saja yang telah ia ambil atau tulis, kaki akan melaporkan ke mana saja ia melangkah, dan kulit akan bersaksi atas segala sentuhan yang ia rasakan. Dalam kondisi ini, hanya orang-orang yang menjaga anggota tubuhnya dalam ketaatanlah yang akan merasa tenang. Kesaksian ini merupakan keadilan absolut dari Allah agar tidak ada seorang pun yang merasa dizalimi di mahkamah yang maha dahsyat tersebut.
Hal ini telah digambarkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an surah An-Nur:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nur: 24).