Penyebab Orang Berpendidikan Kehilangan Kendali Akhlak
Pendidikan yang tinggi hingga mencapai kursi pejabat sering kali dianggap sebagai jaminan kesuksesan hidup. Namun, media massa kerap menyuguhkan realitas pahit saat figur berpendidikan tinggi justru berakhir dengan tangan diborgol akibat korupsi. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk membentengi diri dari godaan duniawi. Sahabat MQ, ketika iman di dalam dada menipis, ilmu pengetahuan yang dimiliki justru berpotensi disalahgunakan untuk memuaskan keserakahan.
Lemahnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama menjadi pintu masuk utama runtuhnya benteng pertahanan moral moralitas seseorang. Saat agama dikesampingkan dari aktivitas harian, kecenderungan untuk menghalalkan segala cara demi meraih harta, pangkat, dan popularitas akan semakin mendominasi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan perihal kecenderungan manusia yang melampaui batas ini di dalam Al-Qur’an:
كَلَّاۤ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىۤ ۙ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ
Artinya: “Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serbakecukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7).
Ketika seseorang merasa serbakeren dengan atribut dunianya, ia perlahan mulai melupakan hakikat dirinya sebagai hamba. Kehilangan figur keteladanan yang sahih seperti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membuat standar hidup bergeser pada kemewahan semu. Akibatnya, rasa malu kepada keluarga, orang tua, dan masyarakat sirna seketika saat godaan materi yang masif datang melanda hati yang kosong dari petunjuk Ilahi.
Mengapa Agama Sering Kali Hanya Menjadi Pajangan Casing Semu?
Sering kali terlihat fenomena di mana simbol-simbol keagamaan hanya digunakan sebagai pelengkap penampilan atau casing luar belaka. Seseorang mungkin sangat fasih berbicara atau gemar menampilkan identitas kesalehan, namun tindakannya di balik layar justru bertolak belakang dengan syariat. Sahabat MQ, agama sejatinya bukan sekadar ornamen khotbah atau status sosial, melainkan kompas utama yang mengatur setiap embusan napas dan keputusan hidup.
Apabila Al-Qur’an tidak lagi dijadikan sebagai peta petunjuk dalam mengarungi kehidupan, maka langkah kaki akan mudah tersesat di tengah hiruk-pikuk duniawi. Kehidupan tanpa tuntunan agama ibarat mengembara di kota asing tanpa arah yang jelas, sangat melelahkan dan penuh risiko manipulasi nafsu. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadis mengingatkan pentingnya menjaga hati dari penyakit cinta dunia yang berlebihan:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ
Artinya: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, dan celakalah hamba pakaian (kemewahan).” (HR. Bukhari).
Keterikatan yang teramat kuat pada pujian makhluk dan kebanggaan pangkat membuat jiwa menjadi sangat rapuh menghadapi kilauan harta. Ketika urusan dunia dipertuhankan, maka kejujuran dengan mudah digadaikan demi mengejar kepuasan yang sifatnya sementara. Oleh karena itu, kembali mempelajari esensi agama secara mendalam menjadi kebutuhan mutlak agar terhindar dari kehinaan.
Solusi Mutlak Kembali pada Keteladanan Rasulullah dan Petunjuk Al-Qur’an
Satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan diri dari degradasi moral adalah dengan mendekatkan diri sedekat mungkin pada keteladanan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Beliau adalah prototipe manusia sukses yang seluruh gerak-geriknya, mulai dari senyuman hingga kebijakan, memancarkan kemuliaan akhlak. Sahabat MQ, meniru akhlak mulia Nabi merupakan metode paling sederhana dan efektif untuk memperbaiki kualitas hidup yang sedang karut-marut.
Al-Qur’an hadir sebagai mukjizat penenang hati sekaligus pemberi peta kehidupan yang terang benderang bagi setiap jiwa yang kebingungan. Dengan membaca, memahami, dan mengamalkan isinya, setiap hamba akan mendapatkan kekuatan batin untuk membedakan antara yang hak dan yang batil. Janji Allah sangat nyata bagi orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan utama dalam hidupnya:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Artinya: “Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus…” (QS. Al-Isra’: 9).
Ketika keyakinan kepada Allah sudah tertanam kuat di lubuk hati, maka jiwa akan menjadi sangat tenang dalam menghadapi ujian harta dan jabatan. Segala bentuk kecurangan atau keinginan untuk mengambil yang bukan haknya akan langsung tersaring oleh rasa takut kepada Allah. Kedekatan dengan petunjuk Ilahi inilah yang pada akhirnya melahirkan pribadi yang berintegritas tinggi, jujur, dan selamat dunia akhirat.