Mengapa Rajin Ibadah tapi Maksiat Tetap Jalan Terus?

Sebuah anomali yang sering memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat adalah adanya pribadi yang rajin melaksanakan salat namun tetap melancarkan aksi maksiat. Fenomena ini sering kali diistilahkan secara seloroh sebagai perilaku yang tidak konsisten antara ibadah ritual dengan implementasi sosial. Sahabat MQ, kondisi rohani yang demikian menandakan adanya masalah mendasar pada kualitas dan kekhusukan ibadah yang didirikan setiap hari.

Ibadah salat yang dikerjakan tanpa didasari oleh fondasi ilmu yang benar cenderung menjelma menjadi sekadar gerakan badan tanpa makna. Padahal, salat yang didirikan dengan pemahaman mendalam memiliki kekuatan luar biasa untuk membentengi jiwa dari segala bentuk kemungkaran. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menegaskan fungsi utama dari ibadah mulia ini:

اِتْلُ مَاۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

Artinya: “Bacalah (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Apabila rem otomatis dari salat tersebut tidak berfungsi dalam kehidupan nyata, berarti ada kualitas yang salah dalam pelaksanaannya. Jiwa yang lemah menghadapi godaan dunia menunjukkan bahwa salat yang dilakukan belum mampu menyentuh relung batin yang terdalam. Evaluasi menyeluruh terhadap tata cara ibadah harian menjadi hal yang mendesak untuk segera dilakukan.

Membongkar Ciri-Ciri Utama Salat yang Kehilangan Kekhusukan

Ciri pertama dari salat yang kurang berkualitas dapat dideteksi dari proses persiapannya yang terkesan sangat asal-asalan dan terburu-buru. Wudu dilakukan seadanya, pakaian yang dikenakan tidak diperhatikan kesuciannya, dan waktu kedatangan ke tempat ibadah selalu mepet di akhir waktu. Sahabat MQ, rasa berat dan menganggap salat sebagai beban hidup merupakan indikator nyata bahwa ruhiah sedang mengalami penurunan drastis.

Selain itu, sifat ria atau gemar pamer kerap menyusup, di mana ibadah hanya terasa bersemangat saat disaksikan oleh pandangan mata orang lain. Gerakan salat pun dilakukan dengan sangat cepat tanpa adanya tumaninah, ibarat burung yang sedang mematuk makanannya di tanah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda mengenai bahaya orang yang mencuri dalam salatnya:

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا

Artinya: “Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dari salatnya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana ia mencuri dari salatnya?” Beliau menjawab: “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR. Ahmad).

Selama berdiri menghadap Sang Pencipta, pikiran justru gentayangan memikirkan urusan duniawi, mulai dari bisnis, masakan, hingga barang hilang. Keadaan ini diperparah dengan kemalasan yang tinggi untuk melangkahkan kaki salat berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki serta enggan mengamalkan salat sunah. Kombinasi dari ciri-ciri inilah yang membuat salat kehilangan karamahnya sebagai perisai pelindung diri.

Dampak Buruk Ruhiah Ambles Terhadap Ketahanan Iman

Ketika salat sudah kehilangan ruhnya, maka secara otomatis kekuatan ruhiah seseorang akan mengalami kemerosotan yang sangat tajam atau ambles. Ruhiah yang ambles membuat kendali diri terhadap hawa nafsu menjadi sangat longgar sehingga kemaksiatan menjadi hal biasa untuk dilakukan. Sahabat MQ, berawal dari mata yang tidak terjaga dalam berselancar di media sosial, hati perlahan akan membatu dan mengeras.

Telinga yang terbiasa mendengarkan pembicaraan tidak bermanfaat seperti membicarakan kejelekan tetangga akan merusak ketenteraman batin secara sistematis. Pikiran yang terus-menerus disibukkan oleh urusan duniawi yang tidak penting akan membuat ingatan kepada Allah menjadi terkikis habis. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gambaran tentang orang-orang yang lalai dari mengingat-Nya:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Artinya: “…dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Ketiadaan benteng ruhiah yang kokoh membuat seseorang sangat rentan jatuh ke dalam lubang kehinaan meski penampilannya tampak religius. Tanpa adanya disiplin tinggi dalam menjaga pancaindra dan memperbaiki kualitas sujud, iman akan terus menguap tanpa disadari. Oleh sebab itu, memperbaiki salat adalah kunci mutlak untuk mengembalikan kejayaan ruhiah yang telah hilang.