Bahaya Silent Treatment dalam Hubungan Suami Istri

Diam seribu bahasa saat sedang marah atau yang sering disebut silent treatment ternyata bisa menjadi racun bagi keharmonisan keluarga. Sahabat MQ mungkin menganggap diam adalah cara untuk menghindari pertengkaran, namun jika dilakukan terlalu lama, hal ini justru membangun tembok pemisah yang tebal. Tanpa adanya komunikasi, prasangka buruk akan dengan mudah merayap masuk dan merusak kasih sayang.

Islam sangat melarang sesama muslim untuk mendiamkan saudaranya dalam waktu yang lama, apalagi terhadap pasangan sendiri. Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

Artinya: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sahabat MQ sebaiknya segera mencari jalan tengah ketika terjadi perselisihan daripada memendam amarah dalam diam. Cobalah untuk tetap menyapa dan melayani pasangan dengan baik meskipun hati sedang merasa kesal. Sikap rendah hati untuk memulai pembicaraan lebih dulu justru merupakan tanda kedewasaan iman dan kemuliaan akhlak.

Kehilangan Kedekatan Emosional Akibat Kesibukan Gawai

Di era digital ini, sering kali pasangan berada di ruangan yang sama namun jiwanya terasa sangat jauh karena asyik dengan gawai masing-masing. Sahabat MQ perlu waspada jika waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk berselancar di media sosial daripada bercengkerama dengan keluarga. Hal ini secara perlahan dapat mematikan kemesraan dan membuat komunikasi terasa garing serta formal.

Interaksi langsung yang melibatkan kontak mata dan sentuhan fisik jauh lebih efektif untuk mempererat ikatan batin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kedekatan suami istri:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Artinya; “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Fungsi pakaian adalah menempel langsung pada tubuh, memberikan kehangatan, dan melindungi. Begitu pula seharusnya hubungan Sahabat MQ dengan pasangan; harus ada kedekatan fisik dan emosional yang nyata. Mari kita letakkan gawai sejenak dan berikan waktu terbaik kita untuk mendengarkan cerita pasangan dengan penuh empati.

Memulihkan Kembali Komunikasi yang Sempat Terputus

Jika Sahabat MQ merasa hubungan mulai mendingin akibat jarang berbicara, belum ada kata terlambat untuk memperbaikinya kembali. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti mengirimkan pesan perhatian di siang hari atau mengajak makan malam bersama tanpa melibatkan gangguan luar. Keinginan untuk berubah adalah modal utama dalam membangun kembali benteng rumah tangga yang sempat retak.

Meminta maaf dan memaafkan adalah dua kunci utama dalam memulihkan hubungan yang sempat tegang. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang pemaaf dan suka memperbaiki hubungan. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40).

Dengan saling memaafkan, beban di hati akan terangkat dan pintu komunikasi akan kembali terbuka lebar. Sahabat MQ, ingatlah bahwa tujuan pernikahan adalah mencari rida Allah secara bersama-sama. Oleh karena itu, jagalah lisan dan hati agar selalu terhubung dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.