Sahabat MQ pernahkah kita diam-diam menggenggam harapan besar untuk anak kita, menginginkannya menjadi seorang dokter, seorang insinyur, atau bahkan seorang pengusaha yang sukses? Terkadang tanpa sadar, kita menyisipkan harapan-harapan kita ke dalam hidup mereka, ke dalam hidup anak anak kita. Namun, mereka juga sedang bertumbuh, mengenal diri, dan meraba arah hidup yang mereka yakini.
Karena boleh jadi, yang kita anggap jalan terbaik, belum tentu yang membuat mereka, membuat anak anak kita tumbuh bahagia. Maka sebagai seorang ayah, harapannya mampu menjadi pendengar yang baik, mampu juga menjadi pengarah yang bijak. Dengan menjadi pendengar yang baik dan pengarah yang bijak, Ayah sedang menunjukkan cinta dalam bentuk yang paling dalam: menghargai pilihan anak sambil tetap hadir sebagai penuntun.
Sebagai seorang ayah sudah seharusnya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Termasuk dalam membimbing dan mengarahkan anak pada visi yang jelas. Visi yang baik orientasinya adalah bukan sekedar pencapaian duniawi saja, melainkan visi tersebut harus berorientasikan akhirat.
Ketika berbicara visi akhirat, maka tidak boleh ada perbedaan dan jelas apabila visinya akhirat adalah massuk surga bersama. Sehingga yang menjadi dasar dalam menentukan visi tersebut adalah kokohnya iman. Karena jika posisi imannya sudah benar, maka akan muncul kebaikan yang banyak dan berlimpah. Sebagai orang tua harus memilki visi yang jelas dalam pendidikan terutama.
اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّاۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٣٢
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS Az Zukhruf: 32)
Mengokohkan Keimanan
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ ٢١
Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS At Tur: 21)
قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِيْٓ اَهْلِنَا مُشْفِقِيْنَ ٢٦
Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, adalah orang yang takut (ditimpa azab Allah). (QS At Tur: 26)
Penyamaan Visi Keluarga Nabi Yaqub
اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ١٣٣
Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” (QS Al Baqarah: 133)
ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ ١٠
Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS At Tahrim: 10)
Program: Inspirasi Keluarga – Sekolah Ayah
Narasumber: Ustadz Darlis Fajar
Penyiar: Mochamad Dava