Sahabat MQ manusia sejak lahir sampai wafat berjalan menuju Allah, namun ada orang yang hatinya mati tidak bisa melangkah menuju Allah, ada orang yang memimiliki cahaya dalam hatinya dan mulai melangkah menuju Allah, ada orang yang sedang berjalan menuju Allah dan ada juga yang sudah sampai ke tujuan kepada Allah. Manusia diciptakan untuk ibadah, yaitu semua pikiran dan perbuatan yang tampak dan tidak tampak di tujukan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Pada akhirnya adalah bagaimana kita mengenal Allah, jika kita mengenal Allah maka kita akan yakin kepada Allah, harap cinta, takut kepada Allah. Ketika sudah yakin maka akan lulus dari ujian kehidupan dan ujian ketaatan. Jika sudah lulus maka akan mendapat predikat takwa, menurut imam nawawi ketika sudah takwa maka akan mendapatkan Qolbun Salim, atau hati yang selamat, kemudian jika hati selamat maka akan memiliki akhlak yang mulia baik terhadap Allah dan makhluk-Nya.
Dalam menjalani ibadah kepada Allah, manusia difasilitasi dengan penciptaan yang sempurna, Imam Al Ghazali mengatakan ada 3 lapis penciptaan manusia.
Penciptaan jasad/jasmani, lapisan terluar dan tidak bisa dikendalikan, ada proses kimiawi ada campur tangan manusia ada peluang terkontaminasi kotoran-kotoran, karena makanan yg haram, syubhat dll, yang mempengaruhi akhlak.
Hayat atau mental seseorang, lapisan tengah dan bisa dikendalikan, bisa memilih ingin menjadi baik atau buruk, ingin takwa atau fujur, dan hayat berorientasi pada ruh, apakah bercahaya atau gelap.
Nafs dorongan jiwa untuk memenuhi keinginan dan melakukan kemaksiatan, nafsu atau syahwat tidak bisa dihilangkan namun bisa dikendalikan dengan aturan Allah. Syahwat terbagi dua, syahwat indrawi yaitu meliputi pandangan, tangan, kaki dll, serta syahwat maknawi yang meliputi hati yang haus kekuasaan, dendam, dll.
Dalam Al Quran besaran nafsu meliputi amara bissu’ mengajak pada kejahatan, lawwamah menyesali nafsu jika jatuh pada kemaksiatan, dan mutmainnah mengajak pada ketaatan.
Adapun akal, bisa merekayasa sesuatu dengan akal. Sementara qolbu, secara fisik adalah jantung, pusat ruh, secara non fisik lathifah (lembut) menjadi pusat kendali yang memantulkan cahaya ilahiyah, jika hati bersih maka akal bersih dan hidupnya akan berorientasi pada ilahiyah.
Hati bisa kotor di dukung oleh akal dan nafsu yang tidak terkendali. Qolbu sendiri fungsinya merasakan sesuatu, sumber niat dan tujuan, tempat menyerap ilmu dan hikmah, yaitu jembatan menuju Allah. Dan Qolbu terbagi kedalam tiga kondisi, Qolbun Mayyit (hati yang sudah mati), Qolbun Maridh (hati yang berpenyakit/sakit), Qolbun Salim (hati yang bersih/ selamat).
Ruh itu suci baik, yang tidak bisa di capai dengan akal, pusat ruh ada di qolbu. Jika nafsu, hayat dan qolbu kotor karena tidak dikendalikan, maka ruh akan gelap, tidak ada cahaya Allah, dan membuat dia tidak bisa berjalan menuju Allah.
Jika nafsu perut dan kemaluan di ikuti, maka muncul nafsu kekuasaan dan kedudukan jika terus terpenuhi maka muncul keseombongan, lalu muncul dengki dan permusuhan. Dan jika tidak bisa mengendalikan nafsu, maka hati akan menjadi kotor.
Tanda-tanda Hati yang Kotor
- Kesulitan mengamalkan ilmu, sulit mengenal allah
- Tidak bisa menikmati ibadah
- Sibuk dengan hal hal yang tidak bermanfaat
- Mencintai sesuatu lebih dari mencintai Allah
- Berprilaku berlebihan dalam hal apapun
Bagaimana agar bisa finish mempunyai hati yang selamat dan bertemu Allah di surga?
- Maka membersihkan hati, mengosongkan dari keburukan dan mengisi nya dengan kebaikan. Kebersihan jiwa dipengaruhi dengan watak dan watak dipengaruhi dengan apa yang masuk ke dalam perut(makanan/minuman) pola asuh, dan kebiasaan nya.
- Mujahadah dengan ilmu dan keyakinan.
Harus tau mana yang kotor dan apa yang membuat hati kotor - Riyadhoh
Latihan dengan sedikit makan, Sabar dalam ketaatan, dll.
Apa yang harus di bersihkan?
- Jasad dari segala hadats
- Pikiran dari kesia-siaan
- Batin dari sifat tercela
- Hati dari selain Allah
Penghalang bersihnya hati:
- Harta, kecintaan terhadap harta yang menyebabkan, sombong, bakhil dll.
- Kekuasaan/kedudukan
- Fanatisme terhadap tokoh/kelompok
Ciri-ciri hati yang mulai bersih:
- Tidak ada keinginan untuk maksiat
- Tidak bergantung pada makhluk
- Bebas dari ke-akuan (sombong, ujub)
- Di dalam hati hanya ada Allah
Bagaimana agar tidak sibuk dengan hal-hal yang bermanfaat?
Pahami resiko dari apa yang di kerjakan, apakah memberi manfaat untuk dunia akhirat atau tidak kemudian ingat kematian, dan minta pertolongan kepada Allah.
Program: Inspirasi Keluarga – Langkah Kecil untuk Bahagia
Narasumber: Ibu Khairati
Penyiar: Asila Ghania