suami dan istri

Sahabat MQ dalam perjalanan sebuah pernikahan, kita tidak hanya berbagi tawa, cinta, dan kebahagiaan, tetapi juga perbedaan. Kadang, perbedaan itu datang dalam bentuk pandangan. Suami ingin nya seperti ini, namun istri merasa lebih tepat jika seperti ini. Suami merasa perlu diam, istri ingin bicara. Saat itulah, ujian sebenarnya dimulai. Tidak jarang, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa suami dan istri, dua insan yang berbeda latar belakang, pemikiran, bahkan cara pandang, harus saling belajar menyatu dalam visi yang sama.

Namun, perbedaan bukan untuk saling menjauh, tapi untuk saling mendewasakan. Karena cinta yang sejati bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling tulus ingin menjaga. Bukan untuk mencari siapa yang menang, tapi bagaimana Allah ridha dengan cara kita menyikapinya. Karena di balik perbedaan, selalu ada ruang untuk belajar, untuk sabar, dan untuk saling memahami.

Dalam rumah tanggga, suami dan istri harus mampu kembali memahami tujuan rumah tangga yang sebenarnya. Perbedaan yang hadir menjadi salah satu hal yang harus bisa sama-sama mencari solusi, karena bahagia datang ketika masalah dapat terselesaikan dengan baik dan cara yang baik. Pada akhirnya membangun rumah tangga harus menghasilakn banyak kebaikan.

Suami dan istri harus mampu melihat semua persoalan dengan hal yang pas, sesuai dengan porsinya. Sebagai seorang suami, maka harus memperhatikan qū anfusakum wa ahlīkum nāraw (peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka) QS. At Tahrim: 6. Disamping itu, perbedaan yang muncul adalah sebuah khazanah yang harus disyukuri, karena dengan perbedaan pandangan, maka akan dapat melihat dari berbagai sudut pandang atau prespsktif yang lebih luas untuk dapat mencari solusi yang lebih objektif dan terbaik.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩

Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
(QS Ali Imran: 159)

Hal ini menunjukkan bahwa kita harus bersikap lemah lembut yang didalamnya terdapat seni untuk memaafkan, bermusyawarah, serta membulatkan tekad pada hal kebaikan. Tentunya yang perlu dilakukan ketika terjadi perbedaan, maka tidak boleh langsung disikapi negatif dan juga harus bisa saling memaafkan dan memahami.

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا ۝٢٨

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah. (QS An Nisa: 28)

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ ۝١٠

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS At Tahrim: 10)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝١٤

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS At Taghabun: 14)

Sehingga harus dapat memberikan ruang kepada suami dan istri untuk berdiskusi bersama. Suami dan istri adalah patner sehingga harus se-visi dan se-iman. Harus bisa sama sama saling mendukung dan memahami dengan cara yang baik.

Program: Inspirasi Keluarga – Sekolah Ayah
Narasumber: Ustadz Darlis Fajar