istockphoto-1253308935-170667a

Korelasi Hati dengan Interaksi Bersama Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, qalb (hati) bukan hanya sekadar organ rasa, tetapi alat untuk memahami, merenungi, dan menerima petunjuk. Karena itu, kualitas hati sangat menentukan bagaimana seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Hati Sebagai Alat Memahami dan Bertafakur
Banyak ayat menunjukkan bahwa hati adalah alat memahami (yafqahūn), merenung (yatafakkarūn), dan mengambil pelajaran (yatadhakkarūn). Contoh:

إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ

“Kami letakkan penutup pada hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya.” (Al-Kahf: 57)

Dosa Meninggalkan Noda pada Hati
Sebagaimana dijelaskan ulama:
– Setiap dosa meninggalkan nukta sauda’ (titik hitam) pada hati.
– Bila dibiarkan, titik itu menggelap dan akhirnya menutupi hati, hingga hati sulit menerima cahaya Al-Qur’an.
– Ketika hati tertutup, seseorang enggan mendekati Al-Qur’an, tidak merasakan manisnya iman,        tidak tertarik untuk membaca, merenungi, atau mengamalkan.
Karena itu istighfar, taubat, dan meninggalkan maksiat adalah terapi utama untuk membuka kembali hati dari karat-kotoran tersebut.

Perumpamaan Hati Sakit dan Fisik Sakit
Anda memberi perumpamaan yang sangat tepat:
Fisik yang sakit tidak berselera makan, meskipun makanan itu lezat dan bergizi.
– Bahkan makanan lezat terasa seperti pahitnya jamu.
Demikian pula hati yang sakit, tidak selera dengan Al-Qur’an (padahal itu makanan jiwa), merasa berat, bosan, atau tidak tertarik mendekatinya, bahkan bisa menganggap Al-Qur’an “berat” padahal itu sumber cahaya.

Al-Qur’an sebagai Ghidā’ ar-Rūḥ (Makanan Jiwa)
Para ulama menyebutkan Al-Qur’an itu adalah gid ruhi, artinya Al-Qur’an adalah makanan bagi ruh, sebagaimana makanan bagi tubuh.
– Tubuh hidup dengan makanan.
– Ruh hidup dengan Al-Qur’an.

Tanpa Al-Qur’an, ruh menjadi lemah, hati menjadi keras, jiwa menjadi gelisah dan kehilangan arah. Dengan Al-Qur’an hati hidup dan lembut, jiwa kuat dan tenang, iman tumbuh dan menguat.

Terapi untuk Menghidupkan Hati
Perlunya memahami ilmu syariah dan akidah sebagai bagian terapi. Terapi hati agar kembali dekat dengan Al-Qur’an mencakup:
1. Taubat & Istighfar Membersihkan noda hitam dari hati.
2. Menuntut Ilmu Mempelajari tauhid, akidah, dan fikih membuat hati siap menerima hidayah.
3. Memperbanyak Tadabbur Al-Qur’an Tadabbur menembus hati dan mengobatinya.
4. Menjaga Amal Shalih Karena amal shalih melembutkan hati dan mendekatkannya pada cahaya.

Program: Inspirasi Quran – Spesial QnA
Narasumber: Ustadz Dadan Hamdani, S.Pd., Alhafizh
Penyiar: Zaeni