MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan. Bagi DT Peduli, kualitas pelayanan juga dibangun dari penguatan budaya kerja, kepatuhan terhadap standar operasional, serta ketulusan niat setiap insan yang mengemban amanah.
Semangat tersebut menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Ujian Nasional Standar Operasional Prosedur (SOP) DT Peduli yang digelar serentak di seluruh kantor layanan pada Jumat (17/7/2026). Selama satu hari penuh, operasional pelayanan kepada masyarakat dihentikan sementara agar seluruh samil dapat mengikuti proses evaluasi yang menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas lembaga.
Langkah ini bukan sekadar agenda rutin internal, melainkan bagian dari transformasi organisasi untuk memastikan setiap pelayanan yang diberikan kepada donatur maupun penerima manfaat memiliki standar yang sama, profesional, akuntabel, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Perkuat Budaya Kerja Profesional, DT Peduli Gelar Ujian Nasional SOP
Sejak pagi, suasana di Kantor Pusat DT Peduli Bandung tampak berbeda. Ruang-ruang yang biasanya dipenuhi aktivitas pelayanan berubah menjadi ruang evaluasi. Para samil dari berbagai divisi terlihat serius mengerjakan soal-soal yang menguji pemahaman mereka terhadap kebijakan lembaga, alur kerja, hingga implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang menjadi pedoman dalam menjalankan amanah.
Pelaksanaan ujian dilakukan secara serentak di seluruh kantor layanan DT Peduli di Indonesia sebagai bentuk komitmen membangun budaya kerja yang berorientasi pada kualitas, konsistensi, dan profesionalisme.
Rangkaian kegiatan berlangsung hingga menjelang pelaksanaan shalat Jumat. Setelah itu, seluruh peserta mengikuti sesi pengarahan yang disampaikan oleh jajaran manajemen, mulai dari Direktur Utama hingga para direktur di setiap direktorat. Dalam kesempatan tersebut, manajemen menyampaikan evaluasi sekaligus arah strategis lembaga untuk meningkatkan mutu pelayanan di masa mendatang.
Direktur DT Peduli, Jajang Nurjaman, menjelaskan bahwa ujian nasional SOP bertujuan mengukur tingkat pemahaman setiap samil terhadap kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh lembaga.
“Seberapa paham ada sebuah kebijakan, semua aturan, SOP yang sudah ditetapkan. Dari SOP itu, seberapa paham, seberapa menguasai, seberapa bisa menjalankan itu. Seberapa bisa melengkapi persyaratan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menjalankan SOP itu. Itu yang kita ukur sebetulnya kemarin,” ujarnya.
Menurutnya, hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar dalam melakukan pembinaan lanjutan. Peserta yang memperoleh nilai di bawah 50 akan mengikuti remedial, nilai 50–80 dikategorikan cukup, sedangkan nilai di atas 80 menunjukkan pemahaman yang baik terhadap standar operasional yang berlaku.
Namun, Jajang menegaskan bahwa tujuan utama dari evaluasi ini bukan sekadar mengejar nilai tinggi.
Yang lebih penting adalah memastikan seluruh samil memiliki pemahaman yang seragam sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan dengan kualitas yang sama di seluruh kantor DT Peduli.
“Kalau tidak standar, berarti mereka pakai standar siapa? Mungkin karena kebiasaan turun-temurun saja. Hasilnya bisa jadi banyak donatur yang tidak puas karena layanan yang berbeda-beda. Akhirnya muncul komplain,” jelasnya.
Menurutnya, standar operasional menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Ketika seluruh proses pelayanan berjalan sesuai SOP, potensi kesalahan dapat diminimalkan, kualitas layanan meningkat, dan kepuasan donatur maupun penerima manfaat dapat terus terjaga.

Menjaga Keberkahan Amanah dengan Meluruskan Niat dalam Melayani Umat
Di balik pentingnya standar kerja, DT Peduli meyakini bahwa keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh sistem yang baik maupun teknologi yang modern. Ada nilai yang jauh lebih mendasar, yaitu keikhlasan dalam menjalankan amanah.
Dalam arahannya kepada seluruh samil, Jajang Nurjaman mengingatkan bahwa profesionalisme harus berjalan beriringan dengan kualitas ruhiyah. Ia mengibaratkan organisasi sebagai sebuah taman yang indah.
Menurutnya, taman yang indah tidak akan menarik kupu-kupu apabila bunga-bunga yang tumbuh di dalamnya hanyalah bunga plastik. Analogi tersebut menggambarkan bahwa sebuah lembaga bisa saja memiliki sistem yang rapi dan capaian kinerja yang tinggi, tetapi kehilangan keberkahan apabila setiap pekerjaan dilakukan hanya demi penilaian manusia.
“Kita sudah punya taman yang indah. Ini kenapa kupu-kupu tidak datang? Bisa jadi ada bunga-bunga yang palsu. Bisa jadi angka Yaumiyah bagus, hasil penilaian SDM bagus, tetapi niatnya bukan sungguh-sungguh karena Allah, melainkan hanya ingin mendapatkan penilaian dari manusia,” tuturnya.
Ia menilai, orientasi yang hanya berfokus pada pencapaian angka berpotensi menggeser tujuan utama dalam bekerja. Padahal, sebagai lembaga filantropi Islam, setiap aktivitas yang dilakukan seharusnya menjadi bagian dari ibadah dan bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
“Kalau kita ingin ke akhirat, ingin ke surga, itu tidak bisa seperti itu. Harus berubah. Mudah-mudahan teman-teman sudah kembali ke jalan yang benar, meluruskan lagi niat dan tujuan bergabung di lembaga ini,” katanya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberkahan dalam bekerja tidak hanya lahir dari hasil yang dicapai, tetapi juga dari niat yang melandasi setiap langkah pelayanan kepada umat.

Menuju Sertifikasi ISO 9001, DT Peduli Perkuat Sistem dan Integritas Pelayanan
Penguatan budaya kerja melalui Ujian Nasional SOP merupakan bagian dari persiapan DT Peduli menghadapi audit eksternal dalam rangka memperoleh sertifikasi ISO 9001, standar internasional yang mengatur sistem manajemen mutu.
Meski demikian, Jajang menegaskan bahwa sertifikasi bukanlah tujuan akhir yang ingin dicapai. Yang lebih utama adalah menjadikan budaya kerja berbasis SOP sebagai kebiasaan yang mengakar di seluruh lingkungan DT Peduli.
“Yang penting, kita membudayakan kerja dengan standar. Jangan hanya standar pribadi, tetapi harus sama, yaitu standar SOP,” tegasnya.
Ia menambahkan, SOP bukan sekadar dokumen administratif, melainkan pedoman yang menjaga kualitas layanan, mengurangi risiko kesalahan, memperkuat akuntabilitas, serta memastikan setiap amanah yang dititipkan oleh masyarakat dapat dijalankan secara profesional.
“Ketika distandarkan, mudah-mudahan mengurangi komplain, meningkatkan kualitas, mendapatkan kepuasan, bertambahlah produktivitas,” pungkasnya.
Melalui penguatan sistem kerja yang profesional sekaligus pembinaan nilai-nilai spiritual, DT Peduli terus meneguhkan komitmennya untuk menjadi lembaga filantropi yang terpercaya. Semangat “Menetapkan Arah, Menjaga Keberkahan” menjadi pijakan dalam menghadirkan pelayanan yang tidak hanya unggul secara kualitas, tetapi juga membawa manfaat dan keberkahan bagi umat, donatur, serta seluruh penerima manfaat.
(Agus ID)