Sahabat MQ Pada Tahun 632 M, Rasulullah Saw wafat. Sebelum jenazah beliau dikuburkan, para sahabat sudah disibukkan dengan peristiwa yang disebut dengan Saqifah. Pada saat itu, para sahabat terlibat dalam diskusi yang sangat krusial mengenai siapa yang akan menggantikan Rasulullah Saw sebagai pemimpin umat Islam.
Pada saat itu para sahabat disibukkan dengan pertanyaan siapa pengganti Rasulullah Saw sebagai pemimpin. Para sahabat berdiskusi, para sahabat menghendaki orang Ansor lah yang punya tempat dan menolong para Muhajirin yang pindah dari Mekkah termasuk Rasulullah Saw. Sedangkan Muhajirin berpendapat yang paling pantas itu adalah orang orang yang yang paling pertama bersama Rasul dan siap berkorban berhijrah.
Pada saat itu, muncul kecenderungan untuk memilih sosok pemimpin yang tentu saja memiliki karisma dan kelebihan. Rasulullah Saw sendiri pernah menyatakan, “Jika ada Nabi setelah aku, maka yang paling pantas adalah Umar bin Khattab.” Pernyataan ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk memilih Umar bin Khattab sebagai pengganti. Namun, yang menarik adalah Umar bin Khattab sendiri mengajukan kriteria khusus untuk pemimpin pengganti Rasulullah. Kriteria tersebut ternyata membuat Umar tidak masuk dalam daftar calon. Kriteria yang diajukan oleh Umar adalah sebagai berikut:
- Pemimpin pengganti Nabi haruslah orang yang pertama kali masuk Islam.
- Pemimpin tersebut haruslah orang yang paling dipercaya oleh Nabi dalam keadaan kritis, terutama saat hijrah dari Mekkah ke Madinah, dan orang itu adalah Abu Bakar As-Siddiq.
- Pemimpin pengganti haruslah orang yang pernah menyelamatkan Nabi dalam situasi berbahaya, seperti saat berada di Gua Tsur, dan orang itu adalah Abu Bakar As-Siddiq.
- Pemimpin pengganti juga haruslah orang yang dipercaya oleh Nabi untuk memimpin shalat ketika Nabi sedang sakit, dan orang itu adalah Abu Bakar As-Siddiq.
Dengan beberapa kriteria, akhirnya para sahabat sepakat untuk mengangkat Abu Bakar As-Siddiq sebagai pemimpin pengganti Rasulullah Saw. Keputusan ini terbukti tepat. Abu Bakar As-Siddiq tampil sebagai khalifah pertama dan berhasil memimpin umat Islam dengan sangat baik. Salah satu pencapaian besar beliau adalah menyelamatkan naskah-naskah Al-Quran dari potensi kebohongan, kepalsuan, atau perubahan, yang bisa saja terjadi seperti pada kitab-kitab suci sebelumnya. Ini merupakan salah satu warisan penting dari kepemimpinan beliau.
Selain itu, Abu Bakar As-Siddiq juga berhasil meluruskan aqidah umat Islam, terutama terkait dengan munculnya kelompok yang menganggap Musailamah sebagai nabi, yang menyebabkan beberapa orang murtad. Abu Bakar memerangi orang-orang yang murtad tersebut, yang pada akhirnya berhasil meluruskan aqidah umat Islam.
Tak hanya itu, beliau juga berhasil meluruskan pandangan yang berkembang di kalangan orang kaya pada waktu itu yang beranggapan bahwa zakat tidak wajib, meskipun mereka telah menjalankan shalat dan puasa. Dengan tegas, Abu Bakar As-Siddiq mengatakan, “Demi Allah, saya akan memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat, meskipun mereka shalat.”
Menjelang akhir hayatnya, Abu Bakar As-Siddiq merasakan sakit yang mengarah pada wafatnya. Sebelum wafat, beliau berwasiat agar para sahabat memilih Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Para sahabat pun sepakat, dan Umar bin Khattab pun berhasil melanjutkan kepemimpinan dengan sukses, membawa kemajuan bagi umat Islam pada masanya.
Pelajaran yang dapat diambil dari sejarah ini adalah bahwa seorang pemimpin harus diproses dengan baik dan bijaksana. Ketika pemimpin dipilih dengan hati-hati dan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, maka keberkahan dan kebaikan akan datang bagi umat. Itulah yang diajarkan oleh agama Islam, bahwa kepemimpinan yang baik akan melahirkan kemajuan dan kesejahteraan bagi umat.
Narasumber: Prof. Dr. KH Miftah Faridh
Program: Kajian MQ Pagi