Ibadah

Merasakan semangat yang begitu membara untuk tilawah dan salat malam saat Ramadan, namun tiba-tiba merasa berat saat memasuki bulan Syawal adalah fenomena yang manusiawi. Namun, rasa malas tersebut sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut agar kebiasaan baik yang sudah terbentuk selama sebulan penuh tidak hilang begitu saja. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa setiap fase ibadah memiliki tantangannya sendiri, dan Syawal adalah ujian konsistensi yang sesungguhnya.

Narasumber dalam program Inspirasi Qur’an, K.H. Hery Saparjan Mursi, M.Ag., Alhafizh, berbagi perspektif yang menyejukkan bahwa kunci untuk bangkit adalah dengan menyadari betapa kita sangat membutuhkan bimbingan Allah Swt. setiap saat. Menyadari bahwa setiap lembar Al-Qur’an yang dibaca adalah bentuk pertolongan-Nya akan membuat Sahabat MQ merasa lebih ringan untuk memulainya kembali, meskipun terkadang harus diawali dengan sedikit memaksakan diri melawan hawa nafsu.

Bulan Syawal ini merupakan waktu yang tepat bagi Sahabat MQ untuk menata ulang niat dan strategi ibadah. Alih-alih merasa bersalah karena semangat yang menurun, mari kita coba dekati kembali Al-Qur’an dan sajadah dengan cara yang lebih realistis namun bermakna. Dengan langkah-langkah kecil yang konsisten, Sahabat MQ dapat membangun kembali momentum spiritual yang sempat mengendur setelah hari raya.

Membangun Kedekatan Kembali dengan Target yang Realistis

Salah satu penyebab utama munculnya rasa malas adalah karena menetapkan target yang terlalu tinggi di tengah kesibukan yang mulai kembali normal. K.H. Hery Saparjan Mursi, M.Ag., Alhafizh menyarankan agar Sahabat MQ membuat target yang “minimalis” namun berkelanjutan. Sebagai contoh, cukup berkomitmen membaca satu halaman atau beberapa ayat saja setiap hari, asalkan dilakukan secara istikamah tanpa terputus sama sekali.

Kedisiplinan dalam hal-hal kecil ini justru yang akan membuahkan hasil besar di masa depan bagi Sahabat MQ. Saat merasa lelah, ingatlah bahwa Al-Qur’an adalah bekal terbaik yang akan menemani dan menerangi perjalanan hidup, tidak hanya di dunia tetapi hingga ke alam barzakh kelak. Membayangkan Al-Qur’an sebagai pelindung di masa depan akan memberikan suntikan semangat baru bagi Sahabat MQ untuk terus menjaganya setiap hari.

Selain itu, penting bagi Sahabat MQ untuk tidak menunda-nunda kesempatan berbuat baik yang datang secara tiba-tiba. Prinsip “bersegera dalam kebaikan” akan membantu melawan rasa malas yang sering kali muncul karena terlalu banyak berpikir. Dengan langsung mengambil wudu atau membuka mushaf saat teringat, Sahabat MQ sedang melatih jiwa untuk tetap sigap dalam menjalankan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Doa sebagai Senjata Utama Menjaga Keistikamahan

Di balik setiap usaha yang dilakukan, ada satu elemen penting yang tidak boleh terlewatkan, yaitu kekuatan doa. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa kemampuan untuk istikamah tilawah atau bangun malam bukanlah semata-mata karena kekuatan diri sendiri, melainkan murni pertolongan Allah Swt. Hal ini sejalan dengan janji indah-Nya dalam Surah Fatir ayat 29 mengenai perdagangan yang menguntungkan:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.”

K.H. Hery Saparjan juga mengajarkan sebuah doa yang sangat mulia untuk dipraktikkan Sahabat MQ agar senantiasa ditolong dalam ibadah: “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.” Doa ini merupakan pengakuan jujur bahwa kita butuh bimbingan agar lisan selalu basah dengan zikir dan hati selalu rida dalam beribadah. Dengan memperbanyak doa ini, insyaallah rasa malas akan perlahan berganti dengan rasa rindu untuk terus bersimpuh di hadapan-Nya.

Menciptakan Ekosistem Kebaikan di Era Digital

Terkadang, motivasi eksternal berupa lingkungan yang baik sangat dibutuhkan Sahabat MQ untuk menjaga ritme ibadah tetap stabil. Memiliki sahabat yang saling menyemangati atau bergabung dalam komunitas tadarus digital bisa menjadi solusi yang sangat praktis di zaman sekarang. Saat melihat orang lain tetap semangat di tengah kesibukan, biasanya akan muncul dorongan positif dalam diri Sahabat MQ untuk tidak mau kalah dalam urusan pahala.

Sahabat MQ juga dapat memanfaatkan ponsel pintar sebagai asisten spiritual yang andal melalui penggunaan fitur pengingat atau aplikasi Al-Qur’an yang interaktif. Daripada hanya menghabiskan waktu untuk aktivitas digital yang kurang produktif, menyisihkan waktu sejenak di sela-sela kerja untuk mendengarkan murattal dapat membantu menjaga hati tetap tenang. Hal ini adalah ikhtiar nyata bagi Sahabat MQ agar tetap terhubung dengan-Nya di mana pun berada.

Sebagai penutup, mari jalani sisa bulan Syawal ini dengan penuh optimisme dan niat yang lurus. Setiap langkah kecil yang diambil Sahabat MQ untuk melawan rasa malas adalah bukti nyata cinta kepada Allah Swt. Semoga kita semua dianugerahi kekuatan untuk terus istikamah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai napas dalam setiap aktivitas kehidupan sehari-hari.