Memeriksa Niat Sebelum Menyebar Tulisan

 Dunia digital membuat jempol kita terkadang lebih cepat bergerak daripada pikiran, dan ini sangat berisiko bagi Sahabat MQ. Aa Gym berpesan agar setiap tulisan, baik di WhatsApp maupun media sosial lainnya, harus diawali dengan pemeriksaan niat yang jujur. Apakah kita menulis untuk memberikan solusi, atau justru hanya ingin menunjukkan kehebatan diri di depan orang lain?

Niat yang salah akan membuat tulisan kita kehilangan keberkahan dan justru berpotensi menimbulkan fitnah. Sahabat MQ perlu meluangkan waktu sejenak, meski hanya beberapa detik, untuk bertanya pada diri sendiri: “Apakah Allah rida dengan apa yang saya tulis ini?”. Jika jawabannya ragu-ragu, menunda untuk mengirimkan pesan adalah tindakan yang sangat bijaksana.

Keikhlasan dalam berucap dan bertindak adalah kunci diterimanya amal, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

Artinya:“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama…” Ketulusan ini juga berlaku dalam setiap huruf yang kita ketik.

Memastikan Kebenaran Isi dan Konten Informasi

Selain niat, Sahabat MQ juga harus memastikan bahwa informasi yang dibagikan adalah sebuah kebenaran yang valid. Banyak orang terjebak menyebarkan berita bohong atau hoaks hanya karena rasa penasaran atau ingin menjadi yang pertama tahu. Aa Gym menegaskan bahwa membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya adalah bagian dari kedustaan lisan yang membahayakan.

Jangan sampai kita menjadi perantara tersebarnya fitnah yang merugikan orang lain. Sahabat MQ harus terbiasa melakukan tabayyun atau verifikasi sebelum mempercayai dan menyebarkan sebuah berita. Kejujuran dalam konten adalah bagian dari integritas seorang muslim yang telah dididik selama bulan suci.

Rasulullah SAW mengingatkan tentang bahaya menceritakan segala hal tanpa disaring:

 كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar” (HR. Muslim). Mari kita lebih selektif dalam menyaring informasi.

Mempertimbangkan Dampak Ucapan Bagi Orang Lain

 Setiap kalimat memiliki “energi” yang bisa membangun atau justru menghancurkan perasaan orang yang mendengarnya. Sahabat MQ diajak untuk selalu memikirkan dampak dari ucapan atau tulisan kita sebelum sampai ke orang lain. Apakah perkataan tersebut menjadi solusi, atau justru menambah beban masalah bagi mereka yang mendengarnya?

Sering kali kita merasa benar, namun cara penyampaian yang kasar justru menjauhkan orang dari kebenaran itu sendiri. Aa Gym mengingatkan bahwa santri dan jemaah yang mulia adalah mereka yang lisannya memberikan kenyamanan bagi sesama. Dengan mempertimbangkan dampak, Sahabat MQ sedang menjaga hubungan baik antarsesama manusia (hablum minannas).

Allah SWT memerintahkan kita untuk berbicara dengan cara yang baik dalam Surah Al-Baqarah ayat 83:

 وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya: “…dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” Perintah ini mencakup semua aspek komunikasi kita sehari-hari.